Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Sejumlah sentimen eksternal dinilai menjadi pendorong pelemahan pasar saham domestik.
Sentimen negatif berasal dari koreksi mayoritas indeks di Wall Street, penurunan harga komoditas, pelemahan nilai tukar rupiah, serta berlanjutnya aksi jual oleh investor asing, menurut analis pasar.
Perkiraan Tekanan Di Pasar
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan melanjutkan pelemahan dengan rentang support pada 5.735–5.585 dan level resist di 6.030–6.180.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks di Wall Street berakhir bervariasi namun mayoritas melemah akibat aksi jual pada sektor teknologi dan turunnya harga minyak yang menekan saham sektor energi.
Harga Minyak Dan Dampaknya
Harga minyak mentah terus mencatat penurunan. WTI turun 3,9% ke US$70,3 per barel, sementara Brent melemah 4,3% ke US$73,7 per barel. Penurunan ini tercatat pada level terendah beberapa bulan terakhir.
Penurunan harga minyak di pasar global turut mendorong koreksi pada saham-saham sektor energi besar, termasuk Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB, yang masing-masing turun lebih dari 2%.
Sektor Teknologi Tertekan
Sektor teknologi juga mengalami tekanan. Contohnya, Sandisk mencatat koreksi signifikan sebesar 2,5%, sedangkan Micron Technology hanya terkoreksi tipis sekitar 0,31%.
Saran Saham Untuk Trading
Dalam kondisi pasar yang penuh tekanan tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham untuk tujuan trading pada sesi perdagangan Kamis, yakni JSMR, UNVR, MYOR, SCMA, INDF, dan HMSP.
Rekomendasi tersebut disampaikan sebagai acuan bagi pelaku pasar yang mempertimbangkan peluang jangka pendek di tengah volatilitas yang dipengaruhi faktor eksternal.
Ikuti Ihram.co.id
