Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,73% ke level 5.835 pada akhir sesi I perdagangan Jumat (26/6/2026), meski sempat berada di zona hijau pada pembukaan.

Sesi perdagangan ditandai dengan 593 saham di zona merah, 91 saham menguat, dan 123 saham stagnan. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 6,39 triliun.

Tekanan Jual dan Level Kunci

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat IHSG kembali melemah dan turun di bawah ambang psikologis 6.000 setelah gagal menembus resistance 6.100, sehingga peluang konsolidasi jangka pendek tetap terbuka.

“Area 5.730–5.850 menjadi support terdekat yang perlu dipertahankan, sementara 6.000–6.130 menjadi resistance,” tulis BRIDS dalam catatannya pada Jumat siang.

Sentimen Global dan Domestik

Menurut BRIDS, salah satu pemicu pelemahan adalah meningkatnya risiko geopolitik setelah laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz, yang dinilai dapat mengganggu distribusi energi global dan mendorong kenaikan harga energi.

Dari Amerika Serikat, data Core PCE Mei tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, yang dinilai mempertahankan ekspektasi “higher for longer” dari The Fed. Namun, BRIDS juga mencatat adanya peningkatan optimisme di sektor AI pasca laporan keuangan Micron yang solid.

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah menuju level dekat Rp 18.000/US$ mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat dan berpotensi membatasi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

BRIDS juga mengingatkan investor mulai mencermati parade penawaran umum perdana (IPO) pada awal Juli, yang berpotensi menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek.