Penjual gorengan di Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, mempertahankan harga Rp 1.000 per potong meski harga bahan baku, seperti tempe dan tahu, mengalami tekanan. Strategi menjual murah namun dalam jumlah besar membuat gerai itu tetap laris setiap pagi.
Pemilik usaha, Aljam Rizal Pahlevi (35), mengatakan kegiatan produksi di gerainya, Gorengan Gemoy, dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Bersama pekerja, ia menyiapkan ribuan potong gorengan untuk memenuhi permintaan pembeli yang datang sejak pagi hari.
Suara minyak mendesis menjadi latar saat tahu isi, tempe goreng, bakwan, risoles, pisang goreng, dan pempek menunggu giliran masuk penggorengan. Meski kiosnya sederhana, antrean pembeli terlihat rapi; sebagian membeli untuk konsumsi keluarga, sebagian lain membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.
“Saya buka sampai jam 10, tapi ini jam 9 sudah habis. Karena banyak juga yang memesan,” ujar Aljam saat ditemui.
Nama usaha itu terbilang unik. Menurut Aljam, “Awalnya karena keluarga kami gemoy, gede-gede,” ujarnya sambil tertawa. Popularitas di media sosial turut membantu mengenalkan gerainya, namun Aljam menilai kualitas rasa dan harga yang kompetitif menjadi alasan pelanggan kembali.
Aljam menjelaskan strategi harga murah hanya efektif bila volume penjualan tinggi. Pada hari kerja, Gorengan Gemoy mampu menjual sekitar 2.500-2.700 potong per hari, sedangkan akhir pekan penjualan dapat mencapai sekitar 3.000 potong. Dengan hitungan sederhana, omzet harian bisa mencapai sekitar Rp 3 juta.
Menu usaha tersebut relatif sederhana, yakni tahu isi, tempe goreng, bakwan, pisang goreng, risoles, dan pempek. Kesederhanaan menu itu justru menjadi pembeda; Aljam menyampaikan, “Kalau yang membedakan dengan gorengan lain, kami punya pempek. Yang lain biasanya cireng, kami pempek.”
Strategi Pengadaan dan Modal Kerja
Untuk menjaga harga tetap terjangkau, Aljam membeli sebagian besar bahan baku dari grosir dalam kuantitas besar. Minyak goreng, tepung, sagu, garam, dan penyedap dibeli untuk kebutuhan satu bulan, sementara sayuran dan bahan segar dibeli harian agar kualitas produk terjaga.
Pengeluaran modal sekali beli dapat mencapai lebih dari Rp 21 juta. Seiring perkembangan usaha, Aljam mempekerjakan dua karyawan tetap dan satu tenaga tambahan pada akhir pekan untuk memenuhi lonjakan permintaan. “Harapannya usaha ini bisa membantu teman-teman lingkungan juga,” katanya.
Untuk memperkuat modal kerja, Aljam memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun. Dana itu digunakan untuk pembelian bahan baku dalam jumlah besar, memperkuat modal kerja, serta menyiapkan cadangan peralatan produksi. “Kalau lagi ramai dan modal kurang, KUR sangat membantu,” ujarnya.
Menurut Aljam, akses pembiayaan tersebut membantunya menjaga efisiensi biaya produksi di tengah fluktuasi harga bahan baku karena pembelian dapat dilakukan dalam skala lebih besar.
Peran KUR Dalam Penyaluran Pembiayaan
Bank BRI menyatakan terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program KUR. Tujuan kebijakan ini adalah mendukung keberlangsungan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi daerah.
Hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun atau 46,87% dari total alokasi KUR tahun 2026. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan mayoritas penyaluran difokuskan pada sektor produktif yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Mayoritas penyaluran tersebut diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, dengan porsi mencapai 67,18% dari total KUR yang telah disalurkan,” ujar Akhmad.
Menurut Akhmad, KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, melainkan bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pemberdayaan pelaku usaha di tingkat akar rumput. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Mei 2026, BRI mencatat penyaluran KUR sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Dalam kondisi persaingan usaha kuliner dan fluktuasi harga bahan baku, pengalaman Gorengan Gemoy menunjukkan bahwa kombinasi strategi harga, pengelolaan pengadaan, dan akses pembiayaan dapat menjaga kelangsungan dan pertumbuhan usaha mikro.
Ikuti Ihram.co.id
