PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan laba kuat dan valuasi yang dianggap atraktif, namun harga sahamnya masih mengalami penurunan. Analis menilai kombinasi kinerja operasional dan valuasi itu menjadi dasar rekomendasi beli meski pasar memberi tekanan negatif.

Data perusahaan menunjukkan lonjakan laba bersih (bank only) sebesar 18,6% secara tahunan selama Januari–Mei 2026. Pada Mei 2026 sendiri, laba bersih tumbuh 17,9% yoy dan 17,6% month-on-month.

“Laba bersih BMRI telah memenuhi 41,3% dari proyeksi laba 2026 versi kami dan 40,7% dari konsensus pasar, lebih tinggi dibandingkan rata‑rata historis lima tahun yang berada di kisaran 35% pada periode yang sama,” kata Akhmad Nurcahyadi, analis KB Valbury Sekuritas.

Perkembangan Kinerja

Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit 20,6% yoy, diiringi peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 22% yoy. Komponen dana murah atau current accounts savings account (CASA)—gabungan giro dan tabungan—naik 11,9% yoy.

Biaya kredit (cost of credit/CoC) membaik 20 basis poin secara tahunan menjadi 0,5% dari 0,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) juga turun, sementara return on equity (RoE) tahunan tercatat 22,8%.

Namun, suku bunga lama yang masih ada pada portofolio kredit menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BMRI sebesar 30 bps yoy menjadi 4,4% pada Januari–Mei 2026.

BMRI mempertahankan komposisi aset yang solid, dengan porsi kredit 68,5% dari total aset dan surat berharga 13,2% di tengah tren kenaikan imbal hasil.

“Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 75 bps baru‑baru ini menjadi faktor yang berpotensi mengubah keadaan (game changer),” tambah Akhmad. Penyesuaian suku bunga kredit yang relatif cepat diperkirakan dapat mengurangi tekanan terhadap margin bunga, sehingga BMRI berpeluang mencapai atau melampaui target NIM 2026 sebesar 4,5–4,7%.

Target Harga Saham

Penurunan harga saham BMRI yang sempat mencapai lebih dari 31% dipengaruhi oleh sentimen pasar. Saham tercatat pernah menyentuh level Rp3.710, jauh dari puncak tahun berjalan.

“Koreksi tersebut tidak sejalan dengan fundamental BMRI dan membuat valuasi saham diperdagangkan jauh di bawah nilai wajar,” ujar Akhmad.

KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Mandiri dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp5.660.

Target itu mencerminkan estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 1,8 kali. Saat ini saham BMRI diperdagangkan pada P/B 2026 sekitar 1,4 kali, sedikit di atas level minus dua standar deviasi (-2SD) yang mencapai 1,2 kali, sehingga dihitung saham tersebut diskon sekitar 26% dari target harga.