Kementerian Keuangan menyatakan rencana penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) tidak akan menyebabkan perebutan dana investor atau crowding out di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Pernyataan itu disampaikan dalam upaya merespons kekhawatiran publik soal potensi dampak instrumen baru terhadap pasokan pembiayaan pemerintah dan minat investor, dalam pertemuan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Risiko Diantisipasi Sejak Awal

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu, Herman Saheruddin, mengatakan berbagai risiko yang mungkin muncul dari penerbitan kedua instrumen tersebut telah diantisipasi sejak tahap perencanaan, termasuk kemungkinan pergeseran minat investor dari SBN.

“Artinya kalau potensi crowding out dan segala risiko lainnya sudah kami antisipasi. Yang penting kita punya pembiayaan yang tidak tergantung pada itu-itu aja, sehingga lebih terdiversifikasi,” ujar Herman.

Pelengkap, Bukan Pengganti SBN

Herman menjelaskan Patriot Bond dan Merah Putih Bond dirancang sebagai alternatif sumber pembiayaan jangka panjang yang melengkapi instrumen pemerintah yang sudah ada, seperti Surat Utang Negara (SUN) dan SBN.

Dengan adanya instrumen yang diterbitkan Danantara, sebagian kebutuhan pembiayaan investasi dapat ditangani melalui jalur berbeda sehingga “tugas” pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan negara dan pembangunan sedikit berkurang.

“Tugas kami agak berkurang, karena ada yang di-handle Danantara. Menurut saya, tidak akan terjadi crowding out, karena masing-masing sudah ada channel-nya. Makanya namanya Surat Utang Danantara bukan Surat Utang Negara,” kata Herman.

Daya Tarik SBN Tetap Terjaga

Kemenkeu juga optimistis bahwa kehadiran instrumen baru tidak akan menggerus daya tarik SBN. Menurut Herman, setiap produk investasi mempunyai karakteristik, profil risiko, dan target investor yang berbeda sehingga keberadaan opsi tambahan justru memperkaya pilihan di pasar.

“Kami tidak khawatir kalau SBN kita itu nanti ke depan peminatnya berkurang, justru malah memberikan pilihan. Kalau di teori ekonomi disebut more choice is better,” tutup Herman.