Film

Lebih dari Time Travel, Ini Makna Sebenarnya Film Sore: Istri dari Masa Depan

Advertisement

Film Sore: Istri dari Masa Depan garapan sutradara Yandy Laurens bukan sekadar drama romantis dengan bumbu perjalanan waktu. Sejak tayang di layar lebar, kisah yang diperankan oleh Sheila Dara dan Dion Wiyoko ini memicu diskusi mendalam di kalangan penonton mengenai esensi kehilangan, penerimaan, dan pilihan hidup.

Banyak penonton mungkin awalnya mengira film ini hanya bercerita tentang seorang istri yang ingin menyelamatkan suaminya dari maut. Namun, jika ditelaah lebih dalam, film ini merupakan sebuah elegi duka dan refleksi tentang bagaimana manusia berproses menghadapi kenyataan yang paling pahit.

Memahami Kedukaan Melalui Perjalanan Waktu

Kisah ini bermula dari Sore (Sheila Dara) yang datang dari masa depan untuk mengubah kebiasaan buruk Jonathan (Dion Wiyoko) agar suaminya tidak meninggal di usia muda. Namun, intisari cerita ini justru terkunci dalam dialog yang diucapkan tokoh Marko di Zagreb, Kroasia:

“Ada tiga hal yang tidak bisa kita ubah: masa lalu, rasa sakit, dan kematian.”

Pernyataan tersebut meruntuhkan fantasi bahwa manusia memiliki kendali penuh atas takdir. Sudut pandang ini memperkuat argumen bahwa perjalanan waktu yang dilakukan Sore merupakan representasi dari fase denial atau penyangkalan dalam tahap kedukaan.

Sore sedang terjebak dalam pikiran “seandainya” (what if), sebuah upaya psikologis untuk menebus waktu yang hilang sebelum peristiwa menyakitkan terjadi.

Kalis Mardiasih Soal Film Sore

Aktivis perempuan, Kalis Mardiasih, menyoroti bahwa Sore sebaiknya dilihat sebagai subjek yang sedang berkabung. “Saya memahaminya Sore ada dalam timeline sedang berduka dan menggerakkan cerita dalam fase denial,” ungkapnya. Segala upaya Sore membuang rokok, mengatur pola makan, hingga mengajak Jonathan berolahraga adalah manifestasi dari rasa cinta sekaligus ego untuk tidak mau kehilangan.

Baca juga Penjelasan Ending Film Sore Netflix: Istri dari Masa Depan, Misi Sore Melawan Takdir

Analogi Sisifus dan Perubahan Karena Cinta

Okki Sutanto Film Sore

Dalam prosesnya, Sore digambarkan terus-menerus mengulang waktu meski hasilnya sering kali tetap sama. Pengamat isu sosial, Okki Sutanto, menganalogikan perjuangan Sore seperti Sisifus dalam mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu besar ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali ke bawah secara berulang-ulang.

Namun, di tengah pengulangan yang melelahkan itu, muncul satu titik balik mengenai motivasi perubahan manusia. Jonathan menegaskan satu hal penting kepada Sore:

“Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.”

Advertisement

Kutipan ini menjelaskan bahwa tekanan atau peringatan tentang kematian (rasa takut) sering kali tidak cukup kuat untuk mengubah seseorang. Justru kehadiran Sore yang tulus dan penerimaannya terhadap Jonathan apa adanya yang menjadi kunci transformasi tersebut.

Simbolisme Lokasi dan Waktu

Sutradara Yandy Laurens secara sengaja memilih lokasi seperti Kroasia, Finlandia, hingga Kutub Utara untuk memperkuat narasi keterasingan. Kutub Utara, khususnya, menjadi simbol tempat di mana waktu seolah membeku karena semua garis bujur bertemu, meniadakan zona waktu yang kaku.

Yandy mengungkapkan bahwa inspirasi cerita ini juga berangkat dari refleksi personalnya mengenai pernikahan dan keluarga. Baginya, kadar cinta yang besar bukan berarti seseorang harus siap mati demi pasangannya. “Tapi semestinya aku rela hidup untuk kamu,” kata Yandy.

Musik sebagai Penuntun Emosi

Makna film ini semakin dipertebal melalui penggunaan musik yang naratif. Lagu Barasuara berjudul “Terbuang Dalam Waktu” menjadi elemen penting yang tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut menceritakan akhir perjalanan waktu yang menyesakkan.

Selain itu, lagu-lagu seperti “Forget Jakarta” milik Adhitia Sofyan dan “Hingga Ujung Waktu” dari Sheila On 7 turut membangun atmosfer yang mendukung emosi penonton untuk sampai pada tahap akhir kedukaan: penerimaan.

Cinta Adalah Keikhlasan

Pada akhirnya, makna terdalam dari Sore: Istri dari Masa Depan adalah tentang bagaimana mencintai dalam bentuk yang paling ikhlas. Film ini mengajarkan bahwa meskipun kita tidak bisa mengubah masa lalu atau menghindari kematian, kita selalu punya pilihan untuk menghargai momen kecil di masa kini.

Bagi para penonton, film ini menjadi pengingat bahwa pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari—mulai dari bangun pagi hingga cara kita memperlakukan pasangan—adalah potongan puzzle yang membentuk masa depan. Seperti yang diungkapkan Sore dalam salah satu adegan paling menyentuh:

“Kalau harus mengulang sepuluh ribu kali pun, aku akan tetap memilih kamu.”

Cinta sejati dalam film ini bukan lagi tentang memiliki selamanya, melainkan tentang keberanian untuk terus memilih orang yang sama, meskipun kita tahu bahwa pada akhirnya, perpisahan adalah kepastian yang tidak bisa dicurangi oleh waktu.

Advertisement