Permintaan pada lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dijadwalkan Selasa, 30 Juni, diperkirakan tetap kuat. Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah dan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah menjadi penopang utama, meski keterlibatan investor asing diperkirakan masih terbatas.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan total penawaran pada lelang itu berpeluang melampaui target indikatif pemerintah sebesar Rp 10 triliun.

“Saya melihat permintaan pada lelang 30 Juni berpotensi tetap solid, bahkan kemungkinan total penawaran masih bisa melampaui Rp 20 triliun untuk target indikatif Rp 10 triliun. Namun, kekuatan permintaan kali ini lebih banyak ditopang investor domestik daripada membaiknya sentimen global,” ujar Yusuf.

Imbal Hasil dan Kebijakan Suku Bunga

Yusuf mencatat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% meningkatkan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun tercatat naik ke sekitar 7,24%, dari sekitar 6,09% pada awal tahun.

Menurutnya, kenaikan yield tersebut mencerminkan penyesuaian harga pasar. Dengan kondisi itu, pemerintah dinilai tidak perlu menawarkan premi imbal hasil lebih tinggi untuk menarik minat investor.

— “Dengan kata lain, level yield saat ini sudah cukup kompetitif untuk menarik minat investor,” kata Yusuf.

Partisipasi Asing dan Efek SRBI

Yusuf menilai partisipasi investor asing dalam pasar SUN masih bersifat selektif. Meski tekanan arus keluar modal mulai mereda, sebagian dana global memilih mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko durasi lebih rendah.

Kondisi itu memunculkan efek crowding out di pasar obligasi pemerintah, terutama pada tenor pendek. Bahkan, kurva imbal hasil sempat mengalami inversi ketika yield SUN tenor satu tahun berada di atas tenor dua dan tiga tahun.

“Selama instrumen SRBI masih menawarkan kombinasi yield yang menarik dan stabilitas nilai tukar tetap menjadi perhatian investor global, saya memperkirakan partisipasi asing di SUN tenor menengah hingga panjang belum akan kembali secara agresif,” ujar Yusuf.

Pergerakan Yield Dalam Jangka Pendek

Dari sisi pasar, Yusuf memperkirakan pergerakan yield SUN jangka pendek cenderung terbatas dengan kecenderungan sedikit melandai. Tekanan kenaikan yield dinilai mulai mereda setelah mencapai puncaknya pada awal Juni, seiring membaiknya nilai tukar rupiah.

Namun, ruang penurunan yield diperkirakan terbatas karena kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap besar, pasokan Surat Berharga Negara (SBN) masih tinggi, inflasi meningkat, serta defisit transaksi berjalan masih menahan penurunan premi risiko Indonesia.

“Dengan kombinasi tersebut, saya belum melihat ruang bagi yield turun secara signifikan dalam beberapa pekan ke depan,” kata Yusuf.

Seri Yang Diperkirakan Menjadi Favorit

Untuk lelang pekan depan, Yusuf memproyeksikan seri tenor menengah, khususnya PBS034, akan menjadi incaran utama investor karena dianggap menawarkan keseimbangan antara tingkat imbal hasil dan risiko durasi.

Ia menyebut seri tersebut kemungkinan banyak diminati oleh institusi seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun yang mengutamakan stabilitas portofolio.

Sementara itu, permintaan terhadap Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPN-S) bertenor pendek juga diperkirakan tetap tinggi, sejalan preferensi investor terhadap instrumen parkir likuiditas dengan imbal hasil kompetitif.

“Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan permintaan akan terkonsentrasi pada dua kelompok, yaitu SPN-S sebagai instrumen parkir likuiditas dan PBS034 sebagai pilihan utama untuk strategi investasi jangka menengah,” tutup Yusuf.