Kementerian Koperasi menilai Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) berpotensi menjadi sumber kekuatan ekonomi baru dalam jangka panjang. Pemerintah terus mendorong pengembangan Kopontren di seluruh Indonesia sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas pesantren.

Menurut Menteri Koperasi Ferry Juliantono, perkembangan kopontren relatif pesat. Per Desember 2025 tercatat sekitar 763 kopontren dengan volume usaha mencapai Rp3,5 triliun serta 156 ribu anggota. Beberapa kopontren bahkan memiliki aset lebih dari Rp1 triliun.

“Saya meyakini di tahun-tahun mendatang aset dan volume usaha Koperasi Pesantren akan lebih besar lagi. Insyaallah Koperasi Pesantren di masa mendatang akan menjadi kekuatan ekonomi baru di negara ini,” kata Ferry.

Dukungan Institusional dan Jejaring

Kementerian Koperasi melibatkan Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) dalam upaya memperkuat jejaring kopontren. Peran MPDI dinilai strategis sebagai wadah kolaborasi untuk pengembangan pendidikan, kaderisasi dakwah, dan pemberdayaan ekonomi.

Ferry mengatakan MPDI dapat memperkuat pertukaran pengalaman dan kerja sama antar koperasi pesantren agar tumbuh lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan.

Program Pemerintah dan Akses Pasar

Transformasi koperasi juga dilakukan melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini dipersiapkan menjadi mitra bagi Kopontren dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk unggulan.

“Prioritas utama kita adalah produk dari UMKM lokal, khususnya pesantren. Kami pastikan produk pesantren menjadi prioritas di gerai KDKMP,” ujar Ferry.

Selain itu, Kementerian Koperasi bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk meningkatkan daya saing kopontren. Dukungan itu disasar terutama pada koperasi sekunder MPDI yang baru diluncurkan, dengan harapan koperasi sekunder dapat menghidupi dan mengembangkan koperasi primer di bawahnya.

Respons MPDI dan Pemerintah Daerah

Ketua Umum MPDI Ayi Abdul Rosyid menyatakan MPDI berkomitmen menjadikan pesantren sebagai simpul utama dalam penyelesaian masalah ekonomi masyarakat. MPDI baru meluncurkan koperasi sekunder sebagai media besar pengembangan ekonomi di pesantren.

“Koperasi ini kami harapkan menjadi wadah yang menghubungkan kekuatan pesantren dari Sabang sampai Merauke dengan semangat ta’awun, gotong royong, dan pemberdayaan ekonomi umat,” kata Ayi.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti pentingnya semangat gotong royong dalam membangun ekonomi pesantren. Ia menyebut koperasi sebagai solusi paling layak untuk pembangunan ekonomi pesantren dan menyambut positif hadirnya koperasi sekunder MPDI.

“Dengan koperasi sekunder MPDI sudah ada keguyuban di antara anggotanya. Asasnya adalah kekeluargaan. Kami sangat antusias melihat pesantren akan tumbuh pesat dan mudah-mudahan Jawa Timur menjadi bagian penting dalam mendorong kesuksesan MPDI,” ujar Emil.