Hampir pukul 04.00 waktu Arab Saudi, langkah-langkah pelan mulai menanjak anak tangga menuju puncak Jabal Nur. Udara Makkah yang masih sejuk menyertai perjalanan dini hari menuju Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama.

Bagi jutaan umat Islam, Gua Hira tidak sekadar ruang di lereng gunung; tempat itu menjadi titik awal turunnya risalah kenabian, saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama berupa potongan Surat Al-Alaq (ayat 1–5) pada 17 Ramadan sekitar 610 Masehi.

Peristiwa langka itu tercatat dalam riwayat sebagai pengalaman yang sarat ketenangan sekaligus kegentaran; Nabi sempat diliputi rasa takut dan kegelisahan sebelum wahyu datang.

Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur yang menjulang sekitar 634 meter di atas permukiman Makkah. Dari ketinggian, pemandangan Kota Makkah terbentang luas dengan menara Zamzam Masjidil Haram tampak di tengahnya.

Jarak Jabal Nur ke Masjidil Haram sekitar empat kilometer, namun pendakian menuju puncak tetap menuntut tenaga dan kesabaran. Pada Kamis dini hari, tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi berjumlah 17 orang melakukan napak tilas ke lokasi bersejarah tersebut.

Setapak demi setapak anak tangga dilalui hingga mencapai area puncak dan Gua Hira yang berukuran relatif kecil. Perjalanan rombongan ditemui peziarah dari beragam negara, termasuk Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, negara-negara Afrika, Turki, dan rombongan dari Indonesia.

Rata-rata pendakian memakan waktu sekitar satu setengah jam. Bagi yang jarang berjalan jauh, medan ini terasa melelahkan, tetapi keinginan menyaksikan langsung lokasi turunnya wahyu mendorong semangat para peziarah.

“Ayo sebentar lagi kita sampai Gua Hira,”

ujar Abdul Kholik, ketua rombongan MCH, kepada timnya saat mendekati puncak.

Berbeda dengan kondisi masa lampau, jalur pendakian kini telah ditata lebih rapi. Anak tangga tersusun rapi dan beberapa titik dipasang selter untuk beristirahat. Pedagang juga banyak menawarkan air minum, makanan ringan, dan suvenir khas Makkah bagi peziarah yang singgah.

Sesampainya di puncak, rombongan MCH melaksanakan Salat Subuh berjamaah sebelum bergerak menuju mulut Gua Hira. Panorama Kota Makkah dari titik ini kerap membuat peziarah terhanyut dalam renungan.

Salah seorang jemaah haji Indonesia asal Nganjuk, Jawa Timur, Ali Mukti, termasuk yang berhasil mencapai Gua Hira. Ia memulai pendakian sekitar pukul 01.00 WAS dan tiba di puncak sekitar satu jam kemudian, lebih cepat dari perkiraan rombongan.

Ali menilai ketulusan niat dan persiapan fisik penting untuk menempuh rute ini. Menurutnya, kondisi tubuh yang prima serta bekal makanan dan minuman memadai membantu perjalanan menuju lokasi bersejarah.

“Innamal a’malu binniyat dan selawat Shollu ala Sayyidina Muhammad,”

kata Ali sambil berselawat sesampainya di Gua Hira.