Emas masih dipandang banyak pakar sebagai instrumen penyimpan nilai yang membantu menstabilkan portofolio saat inflasi dan volatilitas pasar meningkat. Rekomendasi alokasi berlainan, namun ada konsensus bahwa porsi moderat mampu memperkuat diversifikasi tanpa memotong potensi imbal hasil jangka panjang secara signifikan.

Persentase ideal bergantung pada tujuan investasi, toleransi risiko, dan horizon waktu masing-masing investor. Untuk investor moderat, angka awal yang sering disebut berkisar di angka rendah, sementara mereka yang lebih berhati-hati atau menghadapi ketidakpastian cenderung memilih porsi lebih besar.

Rentang Alokasi yang Disarankan

Salah satu kerangka umum yang dikemukakan oleh pakar adalah alokasi 5% hingga 10% dalam emas sebagai titik awal.

— “Kerangka awal yang umum (untuk investasi) adalah 5% hingga 10% dalam emas,” kata William Connor CFA CFP, mitra di SAX Wealth Advisors.

Menurut pakar lain, rekomendasi historis lebih konservatif, yakni 2%–5%. Namun, setelah lonjakan harga dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, ada yang merekomendasikan kenaikan alokasi menjadi 10%–15%.

“Secara historis, porsi standar yang direkomendasikan untuk dialokasikan dalam emas adalah 2% hingga 5%. Setelah lonjakan harga dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, angka ini telah meningkat menjadi 10% hingga 15%,” ungkap Leo Chen, profesor di Muma College of Business, University of South Florida.

Faktor Penentu Alokasi

Pakar menekankan bahwa persentase akhir sebaiknya ditentukan oleh profil risiko, kekhawatiran terhadap inflasi, dan tujuan portofolio, bukan semata usia.

“Persentase akhir harus lebih didorong oleh toleransi risiko, kekhawatiran inflasi, dan tujuan portofolio daripada hanya oleh usia,” tambah Connor.

Mereka juga memaparkan perbedaan kebutuhan antara investor muda dan yang mendekati pensiun. Investor muda, menurut pakar, umumnya mampu menahan volatilitas lebih lama sehingga cenderung lebih diuntungkan dari alokasi ekuitas yang lebih besar.

“Investor muda umumnya memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menahan volatilitas dan periode pemulihan yang lebih panjang. Oleh karena itu, mereka lebih diuntungkan dari ekuitas daripada alokasi yang lebih besar pada emas,” kata Leo Chen.

Sementara itu, bagi investor yang mendekati masa pensiun atau memiliki horizon investasi lebih pendek, emas dipandang lebih menarik karena menawarkan penyimpanan kekayaan yang relatif andal, volatilitas lebih rendah, dan likuiditas yang baik.

“Pada tahap ini, emas menjadi lebih menarik karena volatilitasnya yang lebih rendah, likuiditas yang lebih besar, dan ketergantungan yang lebih rendah pada permintaan industri,” kata Leo Chen.

Peran Geopolitik dan Kelemahan Emas

Kekhawatiran terhadap inflasi tinggi, melemahnya mata uang, dan konflik geopolitik mendorong minat investor pada emas sebagai aset lindung. Emas menunjukkan kinerja relatif baik selama periode penurunan ekonomi dan memiliki korelasi rendah bahkan negatif terhadap saham menurut pakar.

“Emas khususnya berkinerja baik selama penurunan ekonomi, menunjukkan korelasi rendah atau bahkan negatif terhadap ekuitas,” ujar Leo Chen.

Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa memegang emas juga berarti melewatkan potensi pengembalian dari aset lain, karena emas tidak memberikan dividen, bunga, atau arus kas.

“Emas dan perak tidak membayar dividen, tidak menghasilkan bunga, dan tidak menghasilkan uang tunai,” jelas Leo Chen.