Harga emas dunia diprediksi masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Analis mengatakan pelemahan berpotensi berlanjut jika tekanan jual tidak mereda.

Saat berita ditulis, harga emas tercatat melemah 0,04% ke level US$3.995,45 per ons troi. Pergerakan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa tren turun masih mendominasi pasar.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai kenaikan pada sesi sebelumnya belum cukup kuat untuk mengubah arah tren. “Pergerakan harga masih menunjukkan bahwa tren turun menjadi skenario utama. Kegagalan emas menembus area resistance di US$4.042 per ons troi menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar,” ujar Geraldo dalam risetnya.

Geraldo menyebutkan pelaku pasar kerap memanfaatkan setiap kenaikan sebagai momen untuk melakukan aksi jual. Hal ini tercermin dari kemunculan kembali candlestick bearish pada perdagangan pagi setelah harga gagal mempertahankan momentum penguatannya.

Menurut dia, dari sisi teknikal struktur pergerakan harga masih condong bearish. “Area support terdekat berada di level US$3.958 per ons troi. Apabila level tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju target berikutnya di kisaran US$3.915 per ons troi,” tambah Geraldo.

Indikator stochastic masih bergerak menuju area oversold. Meski kondisi oversold sering dikaitkan dengan peluang rebound, pada tren turun yang kuat indikator ini dapat menunjukkan tekanan jual yang berlanjut.

Di samping itu, indikator Moving Average masih memperlihatkan pola downtrend. Posisi harga yang bertahan di bawah rata-rata pergerakan utama menunjukkan tren jangka pendek masih negatif. “Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area Moving Average, peluang kenaikan diperkirakan masih terbatas,” kata Geraldo.

Dolar AS Jadi Ancaman

Dari sisi fundamental, Geraldo menyebut penguatan dolar AS turut membayangi pergerakan emas. Kondisi ini terjadi di tengah ekspektasi bahwa ekonomi Amerika Serikat masih kuat sehingga The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

“Penguatan dolar biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain,” paparnya.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS disebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. Investor dinilai lebih memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga maupun dividen.

Geraldo menambahkan pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar tenaga kerja. Jika data tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap harga emas.

Dia juga mencatat membaiknya sentimen di pasar keuangan global turut mengurangi minat terhadap aset safe haven. Akibatnya, investor lebih tertarik pada aset berisiko yang dinilai menawarkan peluang keuntungan lebih besar.

Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Geraldo menilai peluang penurunan masih terbuka. “Selama belum mampu menembus resistance US$4.042 per ons troi dan dolar AS tetap menguat, peluang penurunan menuju area US$3.958 – 3.915 per ons troi masih terbuka,” tutup Geraldo.