Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak luas pada sektor otomotif nasional. Selain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tekanan kurs mendorong naiknya tarif oli, suku cadang, dan kebutuhan perawatan kendaraan di sejumlah daerah.
Kenaikan biaya tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha bengkel. Mereka menghadapi tekanan berupa melonjaknya biaya operasional, sementara permintaan layanan servis menurun karena pelanggan menunda perawatan untuk menghemat pengeluaran.
Banyak pemilik kendaraan memilih menunda servis rutin dan pergantian oli demi menjaga stabilitas kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional sehari-hari. Keputusan ini menjadi strategi penghematan bagi konsumen yang merasakan dampak inflasi dan tekanan kurs.
Pelaku bengkel mengungkapkan kekhawatiran bahwa penundaan perawatan dapat meningkatkan risiko kerusakan kendaraan di kemudian hari. Kondisi ini berpotensi menambah beban perbaikan yang lebih besar jika masalah pada kendaraan tidak ditangani sejak dini.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, dan menekan kenaikan harga kebutuhan pokok agar beban ekonomi tidak semakin bertambah. Harapan tersebut muncul sebagai respons atas tekanan harga yang kini meluas ke komponen perawatan kendaraan.
Ikuti Ihram.co.id
