Penerbitan surat utang khusus seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond berpeluang menambah sumber pembiayaan negara, namun juga menyimpan risiko bagi pasar Surat Berharga Negara (SUN) yang sudah ada. Dampaknya bergantung pada desain instrumen dan siapa target investornya.

Para ekonom menyorot dua kemungkinan: instrumen baru bisa menarik dana baru—misalnya repatriasi modal atau investor luar negeri—atau sekadar memindahkan dana dari SUN reguler, sehingga tidak menambah likuiditas pasar secara keseluruhan.

Risiko Crowding Out Jika Menyasar Investor Sama

Yusuf Rendy Manilet, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyatakan jika Patriot Bond dan Merah Putih Bond diterbitkan saat likuiditas domestik terbatas dan menyasar investor yang sama dengan SUN—baik institusi maupun ritel—maka yang terjadi kemungkinan besar hanyalah pergeseran dana dari SUN reguler ke instrumen baru.

Dalam kondisi tersebut, menurut Yusuf, negara tidak memperoleh tambahan sumber dana signifikan. Pemerintah bahkan bisa terdorong menawarkan kupon lebih tinggi untuk menarik minat, sehingga biaya pendanaan keseluruhan berisiko meningkat.

“Sebaliknya, dampaknya bisa lebih positif apabila Patriot Bond dan Merah Putih Bond dirancang untuk menarik dana baru dari luar negeri atau dana repatriasi milik warga Indonesia yang saat ini ditempatkan di luar negeri. Dengan adanya perluasan basis investor, tekanan terhadap pasar obligasi domestik dapat dikurangi,” jelasnya.

Ancaman Terhadap Likuiditas dan Fungsi Benchmark

Yusuf menambahkan, jika instrumen baru memiliki tenor dan tingkat kupon yang sangat mirip dengan SUN reguler, hal itu akan menciptakan kompetisi internal antar-instrumen pembiayaan pemerintah. Permintaan yang sebelumnya terpusat pada seri SUN acuan bisa terpecah, sehingga likuiditas pasar sekunder menjadi lebih dangkal.

Likuiditas yang kuat penting untuk menjaga peran SUN sebagai benchmark pasar keuangan. Fragmentasi instrumen berisiko membuat kurva imbal hasil acuan menjadi kurang jelas dan menurunkan efisiensi pasar.

Persepsi Dukungan Negara Bisa Menyulut Persaingan

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, mengingatkan bahwa meskipun Patriot Bond dan Merah Putih Bond diterbitkan oleh entitas berbeda, di mata investor instrumen yang dipersepsikan mendapat dukungan negara dan menawarkan kupon serta perlindungan kuat bakal bersaing langsung dengan SBN.

Menurut Josua, di tengah sensitivitas pasar obligasi terhadap suku bunga global, nilai tukar, dan persepsi risiko fiskal, tambahan pasokan surat utang yang mirip SBN dapat mengurangi permintaan lelang SUN, mendorong investor menuntut imbal hasil lebih tinggi, dan meningkatkan biaya pendanaan pemerintah.

Dampak Pada Obligasi Korporasi

Josua juga menyorot risiko perpindahan permintaan dari obligasi korporasi ke instrumen yang dipersepsikan lebih aman. Jika Patriot Bond dan Merah Putih Bond menawarkan kupon kompetitif dan perlindungan hukum kuat, investor dapat mengurangi porsi obligasi korporasi mereka.

Akibatnya, perusahaan mungkin harus menawarkan kupon lebih tinggi, menunda penerbitan obligasi, atau kembali mengandalkan kredit bank, sehingga biaya pendanaan sektor swasta berisiko naik dan ruang pembiayaan untuk ekspansi mengecil.

Syarat Agar Instrumen Baru Melengkapi Bukan Mengganggu

Untuk mencegah efek negatif, Josua menyarankan beberapa ketentuan: jadwal, nilai, tenor, dan kupon penerbitan mesti dikoordinasikan dengan strategi SBN; harga penerbitan mengacu pada kurva SUN secara transparan; target investor diarahkan pada dana baru dan investor jangka panjang; penggunaan dana jelas dan produktif; serta perlindungan hukum dibatasi agar tidak menimbulkan persepsi istimewa.

Pentingnya Pembatasan Penerbitan dan Transparansi

Syafruddin Karimi, ekonom Universitas Andalas, memperingatkan penerbitan instrumen khusus perlu dibatasi dan diarahkan agar tidak mengurangi likuiditas SUN benchmark. Ia menilai risiko persaingan semakin relevan ketika pasar menuntut premi risiko tinggi dan volatilitas meningkat.

Syafruddin menekankan bahwa jika Patriot Bond dan Merah Putih Bond memperoleh perlakuan istimewa—misalnya dalam perlindungan hukum, pajak, atau akses investor—pasar bisa memandangnya tidak seimbang, yang berpotensi merusak disiplin harga.

Pandangan Kementerian Keuangan

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, berpendapat kehadiran Patriot Bond dan Merah Putih Bond tidak otomatis menyebabkan crowding out. Menurutnya, keberadaan instrumen baru bertujuan menambah diversifikasi sumber pembiayaan jangka panjang dan memberi pilihan bagi investor.

Herman mengatakan masing-masing instrumen memiliki saluran investor sendiri sehingga tidak saling menggantikan secara langsung. Ia optimistis SBN dan SUN akan tetap kompetitif karena investor memilih berdasarkan profil risiko yang sesuai.

Kunci Keberhasilan: Segmentasi dan Koordinasi

Beberapa pengamat sepakat bahwa kunci keberhasilan adalah segmentasi investor yang tepat, penentuan fitur instrumen yang jelas, serta koordinasi penerbitan agar Patriot Bond dan Merah Putih Bond melengkapi, bukan mengganggu, struktur pasar yang telah ada.

Jika dirancang dan ditempatkan dengan cermat, instrumen khusus ini berpotensi memperluas basis investor dan membantu pembiayaan pembangunan. Sebaliknya, tanpa pengaturan yang ketat, instrumen tersebut dapat memicu substitusi dana, menaikkan biaya pendanaan, dan melemahkan likuiditas pasar SUN.