Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat diperkuat lewat pertemuan antara Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo bersama jajaran KBRI Washington DC, US Chamber of Commerce, dan AmCham Indonesia pada Kamis (25/6/2026). Pembahasan fokus pada peningkatan investasi, penguatan rantai pasok global, serta pengembangan ekosistem manufaktur dan teknologi.
Pemerintah memaparkan sejumlah peluang investasi, termasuk lonjakan ekonomi digital yang disebut meningkat dari US$ 82 miliar pada 2023 menjadi US$ 99 miliar pada 2025. Indroyono menyoroti peran talenta Indonesia yang menempuh pendidikan di AS dalam mendukung investasi dan transfer pengetahuan.
Penyederhanaan Regulasi dan Buku Proyek Prioritas
Pemerintah menyatakan terus memperbaiki iklim investasi melalui regulasi yang lebih mudah diakses, salah satunya PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Selain itu, disediakan Blue Book Bappenas yang memuat daftar proyek prioritas bagi investor asing.
Peluang di Berbagai Sektor
Pertemuan turut dihadiri sejumlah perusahaan besar AS, termasuk Boeing, Nike, Hamilton Beach, ExxonMobil, dan Freeport-McMoRan. Beberapa poin penting kerja sama menurut delegasi Indonesia adalah sebagai berikut:
- Sektor Penerbangan (Boeing): Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penumpang pesawat terbesar keempat di dunia pada 2036 dengan kebutuhan mencapai 600 pesawat baru sekelas Boeing 737. Boeing membuka peluang bagi industri nasional untuk masuk ke rantai pasok global melalui kolaborasi yang sudah berjalan dengan PT Dirgantara Indonesia. Boeing juga bekerja sama dengan ITB untuk program kepemimpinan dan bermitra dengan Pertamina dalam pengembangan sustainable aviation fuel (SAF).
- Sektor Manufaktur (Nike & Hamilton Beach): Nike menyatakan Indonesia sebagai salah satu basis produksi utamanya dengan menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja, di mana 90% produknya dialokasikan untuk ekspor. Hamilton Beach sedang membangun pabrik peralatan elektronik rumah tangga di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah.
- Sektor Energi & Sumber Daya Alam: ExxonMobil dan Freeport-McMoRan tetap disebut sebagai mitra strategis yang memperkokoh kerja sama ekonomi bilateral.
Catatan Investor dan Agenda Ke depan
Para pelaku usaha AS menekankan perlunya kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan penyelesaian hambatan non-tarif agar Indonesia dapat bersaing dengan negara lain di kawasan. Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee John Goyer berharap gelaran US-Indonesia Investment Summit di Jakarta pada Oktober 2026 dapat menghasilkan kontrak kerja sama yang konkret.
Goyer juga mengajak pelaku usaha Indonesia untuk berpartisipasi dalam forum B-20 di Washington DC pada 9–11 November 2026 yang berlangsung bersamaan dengan KTT G20. Menurut data US Trade Representative, nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$ 45,7 miliar.
Transformasi Kemitraan
Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan AS telah berlangsung puluhan tahun dengan fondasi kuat di sektor energi dan pertambangan. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus kemitraan bergeser ke hilirisasi industri dan transformasi digital, di samping upaya memperketat regulasi lingkungan dan keberlanjutan.
Pemerintah menyatakan langkah pembenahan regulasi berbasis risiko dan penyelenggaraan forum investasi sebagai instrumen untuk meyakinkan investor bahwa iklim investasi di Indonesia kini lebih pasti, transparan, dan kompetitif di tengah persaingan manufaktur regional.
Ikuti Ihram.co.id
