Pemerintah menargetkan penerbitan Panda Bond di pasar keuangan China pada Juli 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pembangunan nasional. Instrumen berdenominasi yuan itu diharapkan memperluas basis investor Indonesia di pasar internasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, mengatakan pemerintah telah mendapat dukungan dari otoritas China, termasuk Kementerian Keuangan China dan People’s Bank of China (PBOC), untuk merealisasikan penerbitan tersebut.
“Insyaallah (terbit Juli 2026), perizinannya juga harus masuk ke PBOC. Kemarin Pak Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa) sudah ketemu dengan gubernur bank sentralnya China. Namun (proses) administrasi tetap harus kita lakukan,” ujar Herman di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Herman menyebut pemerintah telah melakukan berbagai langkah persiapan, termasuk roadshow ke China pada 17-20 Juni 2026 untuk menyelesaikan proses administrasi sekaligus menjajaki minat investor terhadap instrumen tersebut.
Minat Investor China
Dalam rangkaian pertemuan tersebut, tercatat sedikitnya 15 investor menyatakan ketertarikan terhadap Panda Bond Indonesia. Nama-nama yang disebut antara lain Agricultural Bank of China, Zhongou Asset Management, ICBC Wealth Management, Minsheng Tonghui AMC, CITIC-Prudential Life Insurance Company, Bank of China Wealth Management, China Exim Bank, dan Harvest Fund Management.
Herman menilai Panda Bond memiliki daya tarik yang cukup besar di kalangan investor China. Beberapa investor bahkan menyatakan minat untuk berperan sebagai penjamin emisi (underwriter) sesuai porsi yang diperkenankan.
“Ada beberapa yang sudah underwriter. Dari underwriter sendiri mereka dari porsi yang diperbolehkan untuk mereka ambil sendiri itu mereka ambil,” tutur Herman.
Alasan Penerbitan
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas sumber pendanaan pembangunan dan mengurangi ketergantungan pada satu mata uang maupun satu pasar keuangan tertentu.
“Kita ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan sehingga tidak dipengaruhi oleh satu sumber mata uang saja. Ini juga sejalan dengan kerja sama transaksi mata uang lokal yang sudah terjalin antara Indonesia dan China,” ujar Purbaya.
Purbaya menyatakan dukungan dari pemerintah dan otoritas keuangan China mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Diskusi dengan mereka sangat konstruktif dan menunjukkan bahwa kepercayaan China terhadap Indonesia sangat baik. Kedua negara sama-sama memiliki semangat untuk meningkatkan hubungan ekonomi yang lebih erat,” kata Purbaya.
Ikuti Ihram.co.id
