Analis menurunkan proyeksi harga emas menjelang akhir 2026 seiring reaksi pasar terhadap ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve. Penyesuaian proyeksi ini mencerminkan perubahan sentimen pasar dalam jangka pendek meski prospek jangka menengah masih dianggap positif oleh beberapa pengamat.

ING kini memproyeksikan rata-rata harga emas mencapai US$4.300 per troy ounce pada kuartal ketiga dan US$4.600 pada kuartal keempat 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar US$4.850 dan US$5.000.

“Meskipun kami tetap optimis terhadap harga emas dalam jangka menengah, lingkungan jangka pendek telah menjadi lebih menantang,” kata analis komoditas di ING, Ewa Manthey.

Manthey menambahkan bahwa meski lembaga tersebut tidak memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini, faktor-faktor pasar lain tetap perlu diwaspadai. “Imbal hasil yang tinggi dan dolar AS yang kuat kemungkinan akan tetap menjadi hambatan jangka pendek bagi emas,” ujarnya.

Menurut Manthey, respons pasar terhadap ketegangan geopolitik juga berbeda dibanding periode ketidakpastian sebelumnya. “Ketegangan geopolitik gagal menghasilkan arus masuk aset aman seperti yang terlihat selama periode ketidakpastian sebelumnya. Sebaliknya, pasar telah fokus pada implikasi inflasi dari perkembangan geopolitik dan apa artinya bagi kebijakan moneter,” jelasnya.

Meski menghadapi tekanan sampai paruh kedua tahun ini, Manthey menilai fundamental struktural pasar emas masih kuat. “Kami tetap meyakini bahwa pendorong struktural yang mendukung harga emas tetap kuat, meskipun jalur kenaikannya kemungkinan akan lebih lambat dan lebih fluktuatif daripada yang kami perkirakan sebelumnya,” tuturnya.

Selain itu, ING memperkirakan perak akan sedikit mengungguli emas dalam jangka mendatang. “Terlepas dari penurunan peringkat, kami tetap memperkirakan perak akan sedikit mengungguli emas, didukung oleh defisit pasar yang berkelanjutan dan tren elektrifikasi yang lebih luas,” kata Manthey.