Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu. Pencapaian tersebut memperkuat optimisme pelaku pasar bahwa indeks acuan Bursa Efek Indonesia berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level psikologis 9.000 dalam waktu dekat.
Momentum positif ini terjadi di tengah derasnya aliran modal asing ke pasar saham domestik serta sentimen musiman awal tahun yang dikenal dengan January Effect. Kondisi tersebut dinilai masih cukup kuat menopang pergerakan IHSG pada pekan berjalan, meskipun jumlah hari perdagangan lebih singkat akibat libur nasional Isra Mi’raj.
Sentimen Awal Tahun dan Arus Asing Jadi Penopang
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, optimisme terhadap IHSG tetap terjaga seiring kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang mendukung. Menurutnya, minat beli investor masih tinggi, terutama dari investor asing yang terus mencatatkan arus dana masuk bersih ke pasar saham Indonesia.
January Effect turut berperan dalam menjaga sentimen positif, di mana investor cenderung kembali melakukan akumulasi saham setelah melakukan penyesuaian portofolio pada akhir tahun sebelumnya. Likuiditas pasar yang melimpah membuat pergerakan indeks relatif stabil meski volatilitas global masih terjadi.
Data Neraca Perdagangan Jadi Perhatian Pasar
Selain faktor musiman, pasar juga mencermati rilis data neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan keluar pada pekan ini. Data tersebut dipandang sebagai indikator penting untuk mengukur ketahanan sektor eksternal nasional di tengah fluktuasi harga komoditas global.
“Pasar menantikan apakah surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut. Surplus yang kuat akan memperkokoh nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik,” ujar David dalam risetnya, Senin (12/1/2026).
Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan dinilai akan memperkuat persepsi positif terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, sekaligus memberikan ruang bagi IHSG untuk melanjutkan tren penguatan.
Sektor Properti Menarik Perhatian, Pertambangan Masih Penggerak Utama
Dalam kondisi pasar yang sedang bergairah, IPOT melihat sektor properti mulai menunjukkan sinyal kebangkitan. Saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menjadi salah satu emiten yang disorot seiring meningkatnya minat investor terhadap saham-saham dengan valuasi relatif menarik.
Prospek sektor properti dinilai membaik seiring ekspektasi penurunan suku bunga ke depan serta perbaikan permintaan domestik. Kondisi tersebut membuat saham properti kembali dilirik sebagai alternatif investasi di tengah tren penguatan pasar.
Di sisi lain, sektor pertambangan tetap menjadi pendorong utama IHSG. Saham-saham berbasis emas dan energi dinilai masih memiliki prospek positif, seiring kenaikan harga komoditas global yang didukung oleh permintaan industri teknologi dan kebutuhan transisi energi.
David menilai saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) masih berpeluang melanjutkan tren penguatan. Kinerja harga komoditas yang solid memberikan sentimen positif terhadap prospek pendapatan dan laba emiten-emiten tersebut.
“Lonjakan harga komoditas dunia memberikan dorongan kuat bagi saham-saham seperti ARCI dan INDY untuk mempertahankan momentum kenaikannya,” ujarnya.
Rekomendasi Saham Analis
Berdasarkan analisis teknikal dan kondisi pasar terkini, IPOT merekomendasikan saham BSDE sebagai pilihan dari sektor properti, serta ARCI dan INDY dari sektor pertambangan. Selain saham individual, investor juga disarankan mencermati produk reksa dana saham berbasis dividen tinggi, yakni Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD), sebagai alternatif diversifikasi portofolio.
Rekomendasi tersebut disusun dengan mempertimbangkan potensi imbal hasil yang menarik serta manajemen risiko di tengah pasar yang masih berada dalam tren bullish.



