Risma Rudyantoro dan Jeje Jaelani berhasil menghasilkan pendapatan dari konten seputar wisata dan kuliner dengan memanfaatkan strategi kreatif dan kolaborasi komersial. Mereka menyoroti elemen cerita, keautentikan pengalaman, dan teknik editing sebagai kunci menarik audiens.

Keterlibatan publik pada konten wisata meningkat seiring bertambahnya pilihan perjalanan dan akses untuk menemukan referensi. Kementerian Pariwisata mencatat 319,5 juta perjalanan domestik pada kuartal pertama 2026, naik 13,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan menunjukkan tingginya aktivitas wisatawan domestik serta mancanegara pada Maret tahun ini.

Kunci Konten

Jeje mengatakan awal mula dirinya menjadi kreator konten bermula dari kebosanan selama pandemi Covid-19 pada 2021 ketika masih berstatus mahasiswa. Ia mulai mengeksplor kuliner di Bandung dan membagikan rekomendasi melalui video singkat.

“Saya jadi content creator sudah 6 tahun. Awalnya dari kegabutan saat pandemi Covid-19, posisi saya masih mahasiswa dan akhirnya mulai mencoba explore kuliner-kuliner yang ada di Bandung… Dari situ aku mulai bikin konten tentang rekomendasi-rekomendasi kuliner,” kata Jeje saat acara Discover Your Next Go yang digelar TikTok GO di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Risma menuturkan ia awalnya membuat dokumentasi perjalanan pribadi yang kemudian menarik perhatian banyak pengguna di platform seperti TikTok dan Instagram hingga mengumpulkan jutaan pengikut.

Menurut Risma, elemen storytelling penting untuk membuat konten relevan dan mudah dihubungkan oleh penonton. “Saya itu tidak mengutamakan, tidak melulu karena tempat itu mahal atau tempat itu bagus… Tapi justru gimana cara saya bisa menikmati tempat tersebut dan akhirnya saya translate ke dalam konten,” ujarnya.

Risma menekankan pentingnya menghadirkan informasi praktis berdasarkan pengalaman pribadi agar konten terasa autentik. Contohnya, banyak penonton menanyakan aturan membawa makanan di Taman Safari, sehingga Risma membuat video yang juga menyajikan tips dan trik untuk pengunjung.

Jeje menambahkan bahwa riset menjadi fondasi pembuatan konten. “Apa-apa yang akan disampaikan di konten kita harus ngasih informasi yang sejelas-jelasnya, sedetail-detailnya bahkan dari pengalaman real yang kita rasakan selama ngonten di tempat tersebut,” ujar Jeje.

Selain riset dan storytelling, teknik pengeditan menjadi faktor penting. “Style editingnya cukup clear dan estetik, yang penting orang nontonnya nyaman, enak dibaca, dan pesannya bisa sampai ke audiens,” kata Jeje.

Kolaborasi dengan TikTok GO

Kepopuleran konten membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha. Jeje menyebut sudah bekerja sama dengan beberapa brand, terutama di bidang hospitality dan akomodasi. “Sekitar 80% kuliner dan tempat wisata yang ada di Bandung dan sekitarnya sudah bekerja sama dengan saya,” ujarnya.

Satu contoh dampak konten, menurut Jeje, adalah video tentang Bobobox Cabin di daerah perkebunan teh yang ditonton jutaan orang dan berhasil meningkatkan okupansi hotel hingga sekitar 90%.

Keduanya kini terlibat dengan TikTok GO, yang menurut pernyataan platform menunjukkan peningkatan minat pengguna untuk menemukan layanan lokal melalui fitur tersebut. Data TikTok menyebut pencarian konten terkait layanan lokal di TikTok GO—seperti hotel, destinasi wisata, atraksi, dan layanan lokal lain—naik hingga 60% pada 2025.

Tim TikTok menjelaskan TikTok GO memfasilitasi content-driven discovery, memungkinkan pengguna mengeksplorasi informasi hotel dan atraksi yang ditemukan di platform, membandingkan opsi, menemukan penawaran, hingga melanjutkan pemesanan melalui mitra perjalanan TikTok GO.

Peralihan Jeje dari pekerja kantoran ke menjadi kreator penuh waktu mencerminkan potensi ekonomi dari aktivitas ini. “Saya sudah bisa beli kendaraan, menabung, ngajak jalan-jalan orang tua, dan lain-lain,” kata Jeje.

Risma memilih tetap bekerja penuh waktu di kantor dan menilai nilai sebuah konten tidak hanya dilihat dari besaran penghasilan, melainkan manfaat yang dirasakan audiens. “Yang saya cari bukan dari berapa banyak uang yang bisa saya hasilkan actually, tapi lebih ke manfaat-manfaat lain yang ketika saya ngerasa konten itu berguna buat audience, itu adalah justru yang paling berharga sebenarnya,” tutup Risma.