JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali rentan terhadap dolar AS pada perdagangan hari Rabu, 24 Juni 2026, seiring pasar menunggu sejumlah rilis yang berpotensi mempengaruhi sentimen.
Pada penutupan perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat melemah 16 poin ke level Rp 17.859 per dolar AS. Sebelumnya pada Selasa siang mata uang domestik sempat anjlok 19 poin (0,11%) ke level Rp 17.862 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa pada perdagangan besok mata uang domestik akan berfluktuasi namun cenderung melemah di kisaran Rp 17.850–Rp 17.900.
Ihram.co.id — “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.850 – Rp 17.900,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim menilai meskipun ada perbaikan sentimen pasar global menyusul kemajuan dalam kesepakatan perdamaian dan perpanjangan kerangka gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, rupiah masih berisiko tertekan.
Menurut Ibrahim, pengecualian sanksi yang mencakup layanan perbankan, asuransi, dan pengiriman membuat ekspektasi kenaikan ekspor Iran dalam beberapa minggu mendatang, sehingga menambah pasokan global di tengah meredanya kekhawatiran gangguan melalui Selat Hormuz.
“Pengecualian sanksi, yang juga mencakup layanan perbankan, asuransi, dan pengiriman terkait, telah meningkatkan ekspektasi bahwa ekspor Iran dapat meningkat dalam beberapa minggu mendatang,” kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, pasar tetap waspada menjelang pengumuman evaluasi MSCI. Sebelumnya, pasar sempat terkoreksi setelah publikasi Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
Ibrahim juga mencatat adanya serangkaian masalah pada sektor manufaktur—mulai dari penghentian produksi, isu perumahan karyawan, keterlambatan pembayaran gaji, hingga relokasi investasi ke negara lain—yang dianggap sebagai sinyal melemahnya daya saing industri manufaktur nasional.
Ikuti Ihram.co.id
