Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah melemah 79 poin atau 0,4% dalam sepekan 22–26 Juni 2026. Dalam periode itu rupiah bergerak dari Rp 17.843 menjadi Rp 17.922 per dolar AS.

Analis memperingatkan rupiah berisiko kembali tertekan pada pekan berikutnya, seiring proyeksi penguatan dolar AS dan faktor geopolitik yang disebut dapat memengaruhi arah pasar.

Pergerakan Harian Rupiah

Pada Senin, 22 Juni 2026, rupiah sempat dibuka melemah 15 poin (0,08%) di level Rp 17.819 per dolar AS dan ditutup turun 39 poin di Rp 17.843 per dolar AS.

Selasa, 23 Juni 2026, rupiah dibuka melemah 16 poin (0,09%) menjadi Rp 17.859 per dolar AS dan bertahan pada level itu hingga penutupan.

Rabu, 24 Juni 2026, rupiah mengalami pelemahan lebih dalam. Mata uang domestik dibuka anjlok 83 poin (0,46%) ke Rp 17.945 per dolar AS dan ditutup turun 93 poin di Rp 17.952 per dolar AS.

Kamis, 25 Juni 2026, rupiah kembali dibuka melemah 11 poin (0,06%) di Rp 17.963 per dolar AS. Namun pada penutupan hari itu rupiah menguat 9 poin ke Rp 17.943 per dolar AS.

Pada Jumat, 26 Juni 2026, rupiah lagi-lagi tertekan di pembukaan dengan pelemahan 44 poin (0,25%) ke Rp 17.987 per dolar AS, lalu menguat 21 poin dan menutup hari di Rp 17.922 per dolar AS.

Proyeksi dan Faktor Pemicu

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah sepekan ke depan rentan melemah dan akan bergerak di kisaran Rp 17.880–Rp 18.100.

— “USD dalam sepekan ke depan kemungkinan besar akan ditransaksikan di 100.600, kemudian resistancenya 102.100. Jadi ada kemungkinan indeks dolar AS akan menguat tajam,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu (28/6/2026).

Ibrahim menyatakan penguatan dolar AS dipengaruhi sentimen geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia. Ia menyebut ketegangan di Timur Tengah—setelah militer Iran menembak salah satu kapal tanker—serta serangan berkelanjutan Rusia terhadap Kyiv sebagai faktor yang dapat mendorong penguatan dolar.

Ibrahim juga memproyeksikan harga minyak mentah dalam sepekan ke depan akan berada di kisaran US$64,500 per barel dengan resistance di US$75,100 per barel.