JAKARTA — Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Pada sore hari itu, rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.794 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.764.

Pelemahan tercatat terjadi di tengah kombinasi sentimen eksternal dan kondisi pasar domestik yang cenderung berhati-hati.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa dari sisi eksternal rupiah terdampak oleh optimisme pasar terhadap kesepakatan damai antara AS dan Iran. Menurut Ibrahim, kesepakatan itu diharapkan meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur ekspor energi melalui Selat Hormuz.

Dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis (18/6/2026), dijelaskan bahwa memorandum 14 poin tersebut memulai periode negosiasi 60 hari. Kesepakatan juga mengatur bahwa Iran akan mengizinkan lalu lintas bebas bea melalui Selat Hormuz dan memulihkan kapasitas penuh lalu lintas dalam 30 hari.

“Perjanjian tersebut telah membantu meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan, mengurangi kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi dan mendukung permintaan emas sebagai lindung nilai portofolio,” ujar Ibrahim.

Rupiah turut tertekan setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan rentang suku bunga 3,50%–3,75% dan memberi sinyal bahwa terdapat ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun ini.

Dari sisi domestik, pasar Indonesia menunjukkan tekanan dan volatilitas tinggi seiring sikap wait and see pelaku pasar. Kondisi ini berkontribusi pada pelemahan nilai tukar meski ada pengetatan kebijakan monetier oleh otoritas lokal.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik 25 basis poin menjadi 4,75% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,50%.