Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS pada Kamis siang, 26 Juni 2026. Pada perdagangan spot, rupiah tercatat menguat 23 poin (0,13%) ke level Rp 17.928 per dolar AS.
Pembalikan arah ini mengikuti pembukaan pasar yang sempat melemah pada pagi hari—dibuka turun 11 poin (0,06%) ke Rp 17.963 per dolar AS—namun analis menilai risiko pelemahan masih membayangi mata uang domestik.
Sentimen Eksternal Tekan Rupiah
Rully Nova, analis di Bank Woori Bersaudara, menyatakan tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring yield obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi meski ekspektasi inflasi AS menurun. Lonjakan harga minyak yang mulai mereda juga disebutnya berpengaruh terhadap sentimen pasar.
Rully menambahkan, “Rupiah NDF di pasar luar negeri sudah tembus Rp 18.050. Adapun rupiah spot antar bank Jakarta pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah do kisaran Rp 17.930 – 17.990 per dolar AS.”
Faktor Domestik Perkuat Kekhawatiran
Menurut Rully, risiko domestik turut memperburuk sentimen investor. Ia menyebut ketidakpastian fiskal, persepsi penilaian MSCI yang negatif, serta memburuknya indeks CDS obligasi pemerintah Indonesia yang menembus di atas 90 membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset keuangan Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah sebelumnya terlihat pada Rabu (24/6) setelah hasil tinjauan MSCI Market Classification 2026 dipublikasikan. Dalam pengumumannya, MSCI mencatat sejumlah isu, termasuk transparansi pemegang saham dan kekhawatiran terkait perdagangan terkoordinasi di pasar ekuitas Indonesia.
MSCI menyampaikan bahwa pelaku pasar mengekspresikan kekhawatiran mendalam terkait kelayakan investasi yang muncul dari isu-isu tersebut.
Ikuti Ihram.co.id
