Rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan, meski ada sejumlah guncangan global yang berlanjut. Pada penutupan Jumat, 26 Juni 2026, nilai tukar rupiah tercatat menguat 21 poin ke level Rp 17.922 per dolar AS dari Rp 17.943 pada penutupan sebelumnya.

Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan rilis data inflasi Amerika Serikat. Kedua faktor itu menjadi latar dinamika pasar valuta asing selama sesi perdagangan.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa rupiah mampu menguat meski terjadi insiden di perairan dekat Oman, di mana sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal sehingga badan pelayaran PBB menangguhkan skema evakuasi sukarela.

— “Data menunjukkan pada hari Kamis bahwa pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat minggu ini ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada bulan Februari setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur air tersebut, sementara kekhawatiran tentang berapa lama selat tersebut akan tetap terbuka juga meningkatkan perdagangan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/6/2026).

Dari sisi data makro, Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan PCE inti naik menjadi 3,4% YoY pada Mei 2026 dari 3,3% pada April. Secara bulanan, PCE inti tercatat tidak berubah pada 0,3%. Inflasi PCE utama meningkat menjadi 4,1% YoY dari 3,8%, angka tahunan tertinggi sejak April 2023 dan Oktober 2023.

Di domestik, penguatan rupiah juga berkaitan dengan respons pasar terhadap langkah pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya menjaga stabilitas fiskal. Alokasi anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) dalam APBN 2026 telah disesuaikan, dengan pagu MBG dipangkas dari rencana awal Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.