Saham SpaceX mencatat koreksi berkelanjutan setelah debut perdananya di bursa. Pada perdagangan Selasa (23/6/2026) harga saham perusahaan kedirgantaraan dan kecerdasan buatan milik Elon Musk melemah lebih dari 3%.
Penurunan hari itu melanjutkan aksi jual besar-besaran yang terjadi sehari sebelumnya, yang memangkas nilai pasar perusahaan sebesar US$ 400 miliar atau sekitar Rp 7.153,2 triliun.
Lonjakan tajam yang menyertai IPO pada 12 Juni 2026 sebelumnya mendorong kapitalisasi SpaceX hingga menyaingi raksasa teknologi global, namun sentimen pasar kemudian menurun.
Pada awal pekan, saham SpaceX sempat terjun hingga 16%. Dua hari perdagangan sebelumnya juga mencatat penurunan masing-masing 3,6% dan 5%.
Hingga Selasa pagi WIB, kapitalisasi pasar SpaceX tercatat sekitar US$ 2 triliun (sekitar Rp 35.774,0 triliun). Pada pukul 15.30 WIB hari itu, saham masih melemah sekitar 3,43%.
Manajemen Umumkan Surat Utang dan Kas Besar
Di tengah gejolak pasar, manajemen SpaceX mengumumkan penawaran surat utang senior tanpa jaminan awal pekan ini.
Perusahaan juga melaporkan posisi kas dan setara kas sebesar US$ 100,8 miliar (sekitar Rp 1.802,8 triliun) per 19 Juni 2026.
Kerja Sama Komputasi dan Fokus AI
SpaceX menyebutkan kerja sama strategis di bidang komputasi dengan startup AI berbasis open-source, Reflection. Melalui kesepakatan ini, Reflection akan mendapatkan akses ke superkomputer “Colossus”, infrastruktur AI milik perusahaan.
Integrasi teknologi kecerdasan buatan menjadi salah satu fokus SpaceX untuk mengoptimalkan navigasi satelit dan sistem peluncuran otomatis.
Euforia IPO dan Dampak ke Investor Ritel
Saham SpaceX sempat meroket lebih dari 50% dari harga penawaran awal karena minat kuat investor terhadap visi perusahaan. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama.
Pada akhir pekan lalu, banyak investor ritel yang membeli pada tahap awal IPO mengalami pengurangan keuntungan hampir sepenuhnya akibat koreksi pasar.
Posisi Bisnis SpaceX
Keberhasilan SpaceX didukung oleh dominasi dalam bisnis peluncuran roket komersial melalui proyek Falcon 9 dan Starship serta layanan internet satelit global, Starlink, yang kini memiliki jutaan pengguna.
Dengan pengembangan infrastruktur seperti Colossus dan integrasi AI, SpaceX kini diposisikan sebagai perusahaan teknologi multi-dimensi, tidak hanya sekadar pembuat roket.
Ikuti Ihram.co.id
