Komisi Bursa dan Sekuritas AS (Securities and Exchange Commission/SEC) mengajukan usulan untuk mencabut aturan yang selama ini mewajibkan investor memperoleh harga terbaik dalam transaksi saham. Rencana ini dinilai dapat membuka jalan bagi pertumbuhan perdagangan aset saham berbentuk digital atau tokenised equities.

Aturan yang dikenal sebagai trade through rule itu sudah berlaku sejak 2005 dan melarang bursa atau sistem perdagangan mengeksekusi transaksi dengan harga yang lebih buruk dibanding penawaran terbaik di pasar nasional. Tujuan utamanya adalah memastikan investor mendapatkan akses pada harga yang adil di pasar saham yang kompetitif.

Sekarang, SEC menyatakan aturan lama terlalu terfokus pada harga tanpa mempertimbangkan aspek lain dari eksekusi perdagangan, seperti probabilitas keberhasilan transaksi. Ketua SEC Paul Atkins menyampaikan rencana menggantinya dengan penerapan “pengecualian inovasi” bagi platform keuangan terdesentralisasi (Decentralised Finance/DeFi).

Perhatian terhadap aturan itu mencuat karena pasar saham modern digerakkan oleh algoritme yang beroperasi dalam hitungan mikrodetik. Bagi platform kripto yang menawarkan versi token dari saham, kewajiban memenuhi standar kecepatan dan harga tersebut menjadi penghalang signifikan dalam bersaing dengan bursa konvensional.

“Pasar ini bergerak dalam hitungan mikrodetik,” ujar Larry Tabb, Direktur Riset Struktur Pasar di Bloomberg Intelligence, terkait tantangan bagi perdagangan saham berbasis token.

Respons Pelaku Pasar dan Kritik

Sejumlah pelaku industri kripto menyambut rencana pencabutan itu. Alex Thorn, kepala riset di Galaxy Digital, menyebut kebijakan ini sebagai salah satu pemicu utama bagi perkembangan tokenisasi saham. Perusahaan pertukaran aset kripto juga telah mendorong penghapusan aturan karena dianggap menimbulkan kompleksitas dan distorsi bagi model perdagangan baru.

Di sisi lain, lembaga keuangan tradisional mulai menunjukkan minat pada solusi berbasis blockchain untuk perdagangan saham 24/7. Bursa efek besar diberitakan sedang mengembangkan atau merancang model token untuk saham publik, meski rincian teknis dan implementasi belum menjadi bagian dari usulan SEC itu.

Tetapi tidak semua pihak setuju. Kritikus menilai perubahan ini berisiko mengorbankan struktur pasar yang telah ada demi keuntungan bagi segmen tertentu dalam industri kripto. Joe Saluzzi dari Themis Trading mempertanyakan urgensi revisi: “Kita memiliki pasar paling likuid di dunia. Mengapa harus diubah? Siapa sebenarnya yang diuntungkan?”

SEC membuka masa konsultasi publik selama 60 hari untuk menerima masukan dari beragam pihak sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Hingga saat ini, badan pengawas menekankan tujuan menyeimbangkan perlindungan investor dengan peluang inovasi teknologi finansial.

Isu Perlindungan Investor dan Inovasi

Trade through rule dirancang untuk melindungi investor ritel dengan memastikan pesanan beli atau jual dieksekusi pada harga terbaik yang tersedia di seluruh bursa AS. Aturan ini juga memperbaiki transparansi yang sebelumnya kurang pada eksekusi perdagangan.

Namun, kemunculan aset kripto yang beroperasi secara global dan 24 jam turut menantang struktur pasar tradisional tersebut. Perdebatan saat ini tercermin dari upaya regulator menimbang bagaimana menjaga perlindungan investor tanpa menutup jalan bagi perkembangan fintech dan model perdagangan baru.