Setelah tekanan besar pada semester I-2026—meliputi keluarnya dana asing, pelemahan rupiah, dan isu transparansi kepemilikan—prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada paruh kedua tahun ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan otoritas menata kembali kepercayaan pasar.
Di sisi lain, koreksi tajam pada saham-saham unggulan membuat valuasi menjadi lebih menarik bagi investor jangka panjang, membuka peluang akumulasi bila sentimen membaik.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam tren naik jangka panjang (secular uptrend). Dalam skenario optimistis, indeks berpeluang menguji level 7.246 hingga akhir 2026; sebaliknya, jika sentimen negatif kembali dominan, IHSG bisa turun menuju 5.068.
Menurut Nafan, peluang penguatan jangka panjang tetap terbuka karena secara historis IHSG mampu membentuk higher high setiap kali melewati fase krisis. “Dalam jangka panjang, IHSG berpeluang besar membentuk all time high dengan perkiraan target di 10.581. Sebab berdasarkan data historis, IHSG berhasil membentuk higher high yang menandakan bahwa Indonesia berhasil melewati fase krisis dengan baik,” ujar Nafan.
Minat Investor Asing
Nafan menekankan bahwa arah IHSG semester II tidak hanya ditentukan aspek teknikal. Kejelasan status Indonesia di MSCI setelah regulator dan emiten memperbaiki transparansi kepemilikan saham dinilai menjadi katalis terdekat yang dapat mengembalikan minat investor asing.
Sentimen tersebut dapat diperkuat oleh percepatan realisasi belanja pemerintah, kelanjutan proyek hilirisasi, dan pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap di sekitar 5%. Selain itu, valuasi saham kapitalisasi besar yang kini relatif murah versus rata-rata historis dianggap menarik bagi pelaku pasar.
Namun, risiko tetap ada. Pelemahan rupiah yang sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS masih menjadi ancaman utama karena membebani emiten pengimpor dan perusahaan dengan utang valas, serta memengaruhi persepsi investor asing terkait stabilitas pasar domestik.
Karena itu, stabilisasi nilai tukar melalui bauran kebijakan Bank Indonesia menjadi faktor penting. Jika volatilitas rupiah dapat diredam, peluang kembalinya aliran dana asing (foreign inflow) ke saham-saham berkapitalisasi besar akan meningkat.
Nafan juga mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati risiko eksternal, seperti arah suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat mempertahankan harga minyak tinggi, serta tekanan pada kondisi fiskal nasional yang dapat membatasi ruang penguatan IHSG.
Rekomendasi
Nafan menilai pemerintah dan otoritas perlu bergerak terkoordinasi untuk mempercepat pemulihan kepercayaan pasar. Langkah yang disarankan meliputi menjaga disiplin fiskal, memperjelas tata kelola sektor strategis, mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, memperkuat implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), serta mendorong buyback saham emiten BUMN yang fundamentalnya kuat.
Bagi investor domestik, kondisi saat ini belum tepat untuk pembelian agresif. Strategi yang lebih sesuai adalah melakukan gradual accumulation pada saham unggulan yang telah masuk area undervalued, mengingat pasar masih dalam fase pembentukan dasar (bottoming out) dan volatilitas diperkirakan tetap tinggi sebelum tren penguatan berkelanjutan terbentuk.
Pasar Surat Utang
Di pasar surat utang, lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (30/6/2026) diperkirakan masih mencatat permintaan kuat di tengah imbal hasil obligasi pemerintah yang relatif tinggi dan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Namun, minat investor asing belum sepenuhnya pulih karena preferensi terhadap instrumen berisiko durasi lebih rendah.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendi Manilet mengatakan total penawaran pada lelang SUN pekan tersebut berpotensi melampaui target indikatif pemerintah sebesar Rp10 triliun. “Saya melihat permintaan pada lelang 30 Juni berpotensi tetap solid, bahkan kemungkinan total penawaran masih bisa melampaui Rp20 triliun untuk target indikatif Rp10 triliun. Namun, kekuatan permintaan kali ini lebih banyak ditopang investor domestik daripada membaiknya sentimen global,” ujar Yusuf.
Yusuf mencatat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% telah meningkatkan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun juga telah naik ke kisaran 7,24% dari sekitar 6,09% pada awal tahun.
Menurut Yusuf, kenaikan yield menunjukkan pasar telah melakukan penyesuaian harga (repricing) sehingga pemerintah tidak perlu lagi menawarkan premi imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik minat investor. “Dengan kata lain, level yield saat ini sudah cukup kompetitif untuk menarik minat investor,” kata dia.
Meski demikian, partisipasi investor asing di pasar SUN masih cenderung selektif. Sebagian dana global lebih banyak mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko durasi lebih rendah, menciptakan efek crowding out di pasar obligasi pemerintah, terutama pada tenor pendek.
Yusuf memperkirakan yield SUN jangka pendek cenderung bergerak terbatas dengan kecenderungan melandai tipis. Tekanan kenaikan yield mulai mereda setelah mencapai puncak pada awal Juni, didukung membaiknya nilai tukar rupiah, namun ruang penurunan yield terbatas karena kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar, pasokan surat berharga negara yang tinggi, kenaikan inflasi, dan defisit transaksi berjalan.
Untuk lelang pekan itu, Yusuf memprediksi seri tenor menengah, khususnya PBS034, akan menjadi incaran utama investor institusi seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun. Permintaan terhadap Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPN-S) bertenor pendek juga diperkirakan tetap tinggi sebagai instrumen parkir likuiditas.
“Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan permintaan akan terkonsentrasi pada dua kelompok, yaitu SPN-S sebagai instrumen parkir likuiditas dan PBS034 sebagai pilihan utama untuk strategi investasi jangka menengah,” tutup Yusuf.
Ikuti Ihram.co.id
