Pasar kripto harus melalui momen krusial hari ini. Kontrak opsi Bitcoin (BTC) dengan nilai nosional sekitar US$ 10 miliar—sekitar Rp 179,5 triliun—dijadwalkan kedaluwarsa pada Jumat (26/6/2026) pukul 16.00 waktu Singapura (15.00 WIB) di Deribit, bursa opsi kripto terbesar dunia.

Jadwal kedaluwarsa ini datang saat harga Bitcoin justru berada dalam tekanan, didorong oleh melemahnya permintaan institusional dan sentimen makro negatif. Kondisi tersebut menambah ketidakpastian seiring banyak kontrak yang berkaitan dengan taruhan bullish.

Kontrak-kontrak yang akan kedaluwarsa mencakup sekitar 37% dari total open interest di Deribit. Rasio put-to-call tercatat di angka 0,83, angka yang menunjukkan jumlah taruhan untuk kenaikan masih lebih banyak dibanding prediksi penurunan, menurut laporan yang mengutip pernyataan dari Deribit.

Mengapa Kedaluwarsa Ini Penting

Meski dominasi opsi call, sebagian besar kini berada dalam posisi out of the money pada harga spot saat ini karena penurunan nilai Bitcoin. Sebaliknya, opsi put menumpuk pada kisaran strike US$ 60.000–65.000 dan US$ 70.000–75.000, susunan yang di atas kertas menguntungkan posisi bearish.

Adam Haeems dari Tesseract Group mengingatkan bahwa mekanisme kedaluwarsa opsi pada dasarnya membersihkan posisi pasar, bukan menentuk­an arah harga. Namun ia menilai dominasi opsi call di tengah likuiditas yang menipis akhir kuartal memperbesar peluang pergerakan harga tajam akibat penyesuaian lindung nilai oleh dealer.

“Ujian yang sebenarnya baru akan tiba pada pekan pertama Juli, setelah pembukuan kuartalan selesai dibersihkan dan tingkat leverage pasar menurun,” ujar Haeems.

Tekanan di Pasar Spot dan Aliran Dana

Tekanan pada Bitcoin tidak hanya datang dari pasar derivatif. Di pasar spot, Bitcoin sempat turun di bawah level psikologis US$ 60.000 dan tercatat diperdagangkan di sekitar US$ 59.283 setelah terkoreksi 2,6% dalam 24 jam terakhir—mencerminkan penurunan lebih dari 50% dari rekor tertinggi.

Secara teknikal, harga Bitcoin berada jauh di bawah rata-rata bergerak 200 mingguan. Data Barchart menunjukkan rata-rata bergerak 200 hari Bitcoin berada di level US$ 84.443,95.

Kondisi pasar juga diperparah oleh arus modal keluar dari produk ETF Bitcoin di AS. Dana ETF tersebut mencatat net outflows sekitar US$ 2,92 miliar (setara Rp 52,4 triliun) sepanjang bulan ini.

Bagaimana Opsi Mempengaruhi Volatilitas

Kontrak opsi memberi hak, bukan kewajiban, kepada pemegang untuk membeli (call) atau menjual (put) Bitcoin pada harga tertentu (strike price) sebelum atau pada tanggal kedaluwarsa. Jumat terakhir setiap kuartal biasanya menjadi momen kedaluwarsa besar yang kerap memicu lonjakan volatilitas.

Ketika nilai kontrak sebesar ini mendekati tenggat, market maker sering melakukan penyesuaian portofolio besar-besaran guna melindungi posisi melalui delta-hedging, langkah yang dapat memicu pergerakan harga signifikan.

Dengan kombinasi kondisi pasar spot yang lemah, akumulasi opsi put pada tingkat strike tertentu, dan keluarnya dana institusi lewat ETF, kedaluwarsa hari ini menjadi titik tumpu yang menentukan apakah Bitcoin akan mengalami konsolidasi atau melanjutkan tren penurunan lebih dalam.