Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat kebijakan yang digelar Rabu (17/6/2026). Pernyataan resmi FOMC kali ini menghilangkan sinyal pelonggaran dan memberi ruang bagi potensi kenaikan suku bunga ke depan.

Keputusan diambil secara bulat dalam pertemuan yang menjadi debut ketua baru, Kevin Warsh. Komunikasi kebijakan dibuat lebih singkat dan menegaskan fokus pada stabilitas harga di tengah inflasi yang masih tinggi.

Pernyataan resmi FOMC tercatat hanya sekitar 130 kata, jauh lebih ringkas dibanding 341 kata pada pertemuan sebelumnya. Selain itu, dokumen kebijakan itu tidak lagi memasukkan indikasi penurunan suku bunga di masa mendatang.

Dalam proyeksi terbaru dot plot, para pejabat The Fed menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Median proyeksi menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir 2026 menjadi 3,8%, naik dari 3,4% pada proyeksi Maret.

  • Dari 19 peserta, 18 memberikan proyeksi: delapan memperkirakan suku bunga tidak berubah, satu memproyeksikan pemangkasan, dan sembilan melihat peluang kenaikan setidaknya sekali pada tahun ini.

Kevin Warsh menyatakan dalam konferensi pers bahwa dirinya tidak mengisi proyeksi dot dan menilai alat itu kurang efektif untuk kebijakan moneter. Ia juga mengumumkan rencana pembentukan gugus tugas untuk meninjau ulang cara The Fed menyampaikan panduan kebijakan, termasuk dot plot, pernyataan kebijakan, dan risalah FOMC.

“Saya tidak mengisi dot saya sendiri. Ini tidak terlalu membantu dalam kebijakan,”

Warsh menegaskan rencana perubahan dalam sistem komunikasi bank sentral.

Proyeksi Ekonomi

Pembaruan proyeksi ekonomi menunjukkan kenaikan outlook inflasi untuk 2026. The Fed menaikkan proyeksi inflasi headline menjadi 3,6% dan inflasi inti (core) menjadi 3,3%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya masing-masing 2,7%.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi diturunkan menjadi 2,2%, dan tingkat pengangguran diperkirakan sedikit turun menjadi 4,3%.

The Fed menyebut inflasi yang tetap di atas target 2% selama beberapa tahun terakhir sebagai tantangan utama, termasuk tekanan dari kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik.

Data pasar menunjukkan pelaku keuangan yang memantau alat CME Group mulai memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi lebih cepat, bahkan paling cepat pada Oktober tahun ini, seiring perubahan nada kebijakan The Fed yang dinilai lebih hawkish.

Meski demikian, The Fed menegaskan kembali komitmen untuk menurunkan inflasi ke level 2%.

“Komitmen untuk menurunkan inflasi ke 2% adalah kuat dan tidak ambigu,”

ujar Warsh.