Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI kembali menjadi tumpuan bagi jutaan pelaku UMKM di awal tahun 2026. Bank dengan pangsa pasar KUR terbesar ini mencatatkan realisasi penyaluran mencapai Rp163,38 triliun kepada 3,5 juta debitur sepanjang tahun 2025.
Namun, besarnya alokasi dana bukan jaminan pengajuan modal usaha akan langsung disetujui.
Banyak pelaku usaha yang terjebak pada asumsi bahwa syarat administratif saja sudah cukup. Faktanya, analisis perbankan jauh lebih mendalam daripada sekadar kelengkapan berkas.
Berdasarkan evaluasi penyaluran kredit, terdapat sejumlah kesalahan fatal yang sering kali membuat pihak bank menolak permohonan pinjaman meskipun unit usaha terlihat potensial.
1. Riwayat Kredit yang Tercela di SLIK OJK
Salah satu faktor utama penolakan adalah catatan buruk pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Perbankan tetap akan menolak pengajuan meskipun calon debitur tidak memiliki kredit produktif di tempat lain.
Hal ini mencakup tunggakan pada pinjaman konsumtif seperti KPR, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), hingga tagihan kartu kredit atau pinjaman online (pinjol).
Bank BRI menetapkan aturan ketat bahwa calon debitur tidak boleh sedang menerima kredit produktif lain. Jika ditemukan adanya riwayat gagal bayar atau kolektibilitas yang buruk pada kredit konsumtif yang masih berjalan, probabilitas penolakan akan meningkat drastis karena dianggap sebagai indikator karakter debitur yang kurang disiplin.
2. Laporan Keuangan Usaha yang Tidak Masuk Akal
Analis kredit sering menemukan ketidaksesuaian antara nilai pinjaman yang diminta dengan kapasitas pengembalian usaha.
Sebagai gambaran, untuk pinjaman Rp100 juta dengan tenor 60 bulan, cicilan per bulannya mencapai Rp2.166.667. Jika keuntungan bersih usaha tidak mampu menutupi angka tersebut ditambah biaya hidup sehari-hari, bank akan menganggap pinjaman tersebut berisiko tinggi.
Pelaku UMKM sering kali melakukan markup data pendapatan demi mendapatkan plafon tinggi. Padahal, bank memiliki standar perhitungan sendiri untuk memverifikasi apakah omzet yang dilaporkan selaras dengan jenis usaha yang dijalankan.
3. Memaksakan Usaha yang Belum Genap 6 Bulan
Salah satu syarat mutlak dalam KUR BRI adalah durasi operasional usaha. Pihak bank mewajibkan usaha produktif telah berjalan minimal 6 bulan secara konsisten. Seorang pegawai BRI mengungkapkan persyaratan dasar saat nasabah datang langsung ke kantor cabang:
“Ke bank bawa KTP, NIB (nomor induk berusaha), serta pernyataan bahwa usaha yang dijalankan telah berlangsung kurang lebih 6 bulan,” ungkapnya.
Advertisement
Upaya memanipulasi keterangan lama usaha melalui Surat Keterangan Usaha (SKU) biasanya akan terdeteksi saat proses survei lapangan. Analis akan memeriksa interaksi dengan pemasok atau pelanggan sekitar untuk memastikan validitas usia usaha tersebut.
4. Ketidaksesuaian Data Saat Survei Lapangan
Proses survei fisik adalah tahapan paling krusial. Penolakan sering terjadi ketika data yang diisi pada aplikasi online atau formulir kantor tidak sesuai dengan fakta di lokasi. Hal ini meliputi jumlah stok barang, aset produksi, hingga domisili usaha.
Jika calon debitur memberikan keterangan yang berbelit-belit atau tidak sinkron saat diwawancarai petugas lapangan, kepercayaan bank akan langsung runtuh.
5. Tujuan Penggunaan Pinjaman yang Tidak Jelas
KUR adalah kredit modal kerja atau investasi yang bersifat produktif. Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah mengajukan KUR untuk kebutuhan konsumtif terselubung, seperti renovasi rumah tinggal yang tidak berkaitan dengan usaha atau pembelian kendaraan pribadi.
Bank akan melakukan verifikasi ketat apakah dana tersebut benar-benar akan digunakan untuk memutar roda ekonomi UMKM atau justru membebani keuangan pribadi nasabah.
Simulasi Cicilan KUR BRI 2026
Untuk menghindari kesalahan perhitungan beban utang, berikut adalah tabel simulasi cicilan KUR BRI 2026 dengan bunga 6 persen efektif per tahun yang dapat dijadikan acuan oleh pelaku UMKM:
| Plafon Pinjaman | 12 Bulan | 24 Bulan | 36 Bulan | 48 Bulan | 60 Bulan |
| Rp1.000.000 | Rp88.333 | Rp46.667 | Rp32.778 | Rp25.833 | Rp21.667 |
| Rp10.000.000 | Rp883.333 | Rp466.667 | Rp327.778 | Rp258.333 | Rp216.667 |
| Rp50.000.000 | Rp4.416.667 | Rp2.333.333 | Rp1.638.889 | Rp1.291.667 | Rp1.083.333 |
| Rp100.000.000 | Rp8.833.333 | Rp4.666.667 | Rp3.277.778 | Rp2.583.333 | Rp2.166.667 |
*Catatan: Nominal cicilan bersifat estimasi dan dapat berubah sesuai dengan biaya administrasi serta hasil analisis final dari pihak bank.
Baca juga Tabel KUR BRI 2026: Simulasi Cicilan Plafon Rp 1 Juta hingga Rp 100 Juta
Dokumen Wajib untuk Meminimalisir Penolakan
Agar pengajuan memiliki peluang diterima yang lebih tinggi, pastikan dokumen-dokumen berikut telah siap dan valid:
- Identitas diri (e-KTP dan Kartu Keluarga).
- Dokumen legalitas usaha (NIB atau SKU).
- NPWP (Wajib untuk pinjaman di atas Rp50 juta).
- Laporan keuangan sederhana yang menunjukkan arus kas masuk dan keluar.
- Dokumen pendukung lainnya seperti foto usaha dan bukti transaksi.
Pelaku UMKM disarankan untuk melakukan pengecekan mandiri terhadap skor kredit di aplikasi iDebku OJK sebelum mengajukan pinjaman. Dengan transparansi data dan perhitungan yang matang, KUR BRI 2026 dapat menjadi solusi pengembangan usaha yang efektif tanpa harus menghadapi penolakan dari pihak bank.




