Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membuka kemungkinan meninjau ulang target pertumbuhan premi untuk 2026 setelah realisasi kuartal I yang dinilai terbatas. Produksi premi pada periode Januari–Maret 2026 tercatat tumbuh 1,92% secara tahunan menjadi Rp 31,11 triliun, jauh di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode sama yang mencapai 5,61%.
AAUI menyebut kinerja tiga lini utama—asuransi properti, kendaraan bermotor, dan kredit—masih menjadi penahan pertumbuhan premi. Gabungan faktor eksternal seperti pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian ekonomi global juga dinilai menekan permintaan produk asuransi.
Performa Per Lini Usaha
Premi asuransi properti pada kuartal I-2026 tercatat Rp 8,31 triliun atau naik 6,5% year on year. Namun AAUI menyatakan kinerja lini ini masih dipengaruhi lesunya pasar properti residensial; penjualan di pasar primer dilaporkan terkontraksi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Premi untuk asuransi kendaraan bermotor hanya meningkat 2,9% menjadi Rp 5,39 triliun. Angka itu sejalan dengan pertumbuhan penjualan mobil baru yang tercatat 1,7% yoy dan penjualan sepeda motor yang turun 4,1% yoy.
Premi asuransi kredit tumbuh 3,2% menjadi Rp 4,10 triliun. Meski kredit perbankan tetap bertumbuh 8,9% yoy pada kuartal I-2026, peningkatan risiko dan rasio kredit bermasalah membuat perusahaan asuransi lebih selektif menerima bisnis baru. Selain itu, tidak seluruh kredit mendapatkan perlindungan asuransi sehingga peningkatan volume kredit tidak otomatis meningkatkan premi kredit.
“Pertanyaannya, apakah seluruh kredit yang ada di Indonesia itu diasuransikan atau tidak?”
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI, Heri Supriyadi, pada konferensi pers di Jakarta.
Peluang Dari Konsolidasi dan Tantangan Lain
Walau kinerja kuartal I relatif lesu, AAUI tetap optimistis terhadap rencana konsolidasi perusahaan asuransi BUMN yang sedang dipersiapkan pemerintah lewat Danantara Indonesia. Konsolidasi diharapkan meningkatkan kualitas industri dan menciptakan entitas yang lebih besar serta kompetitif.
“Konsolidasi asuransi dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan menciptakan value creation. Jadi tidak ada istilah koreksi target, yang ada justru optimistis akan menjadi lebih baik,” kata Heri.
Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, menambahkan bahwa industri juga menghadapi tuntutan modal minimum dan implementasi standar akuntansi baru yang mendorong perusahaan memperkuat permodalan melalui pertumbuhan bisnis. Namun Budi menyebut risiko eksternal—termasuk konflik geopolitik yang mempengaruhi keputusan ekspansi pelaku usaha—membuat pemulihan aktivitas ekonomi membutuhkan waktu.
“Jadi agak sulit memang karena kondisinya tidak kondisi normal. Kalo kondisi normal lebih gampang kita melakukan prediksinya dengan indikator-indikator yang ada,”
Dengan kondisi tersebut, AAUI mengakui target pertumbuhan premi yang sebelumnya ditetapkan pada kisaran 3–6% untuk 2026 berpotensi ditinjau ulang. Keputusan revisi akan dipertimbangkan setelah evaluasi kinerja industri pada kuartal II-2026 selesai.
Budi menegaskan meski ada tekanan, industri berharap pertumbuhan premi tetap positif hingga akhir tahun. “Mudah-mudahan tidak (negatif) ya. Tapi saya menyikapi ini dengan bijak tentunya. Ya harapannya sih kita harus positif kita harus optimis,” tuturnya.
Ikuti Ihram.co.id
