Harga emas global berada di persimpangan setelah mencatat penurunan beberapa hari terakhir, namun sejumlah ahli memperkirakan masih ada peluang untuk penguatan kembali.

Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), harga emas tercatat merosot 0,77% menjadi US$ 4.176,4 per troy ounce dan memasuki penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Pengamatan para analis kini tertuju pada faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan selanjutnya.

“Ada beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas, yaitu masalah geopolitik, kebijakan politik dan bank sentral Amerika Serikat, serta faktor ketersediaan dan permintaan (supply dan demand),” kata Ibrahim Assuaibi, ahli pasar logam mulia, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Proyeksi Support dan Resistance

Ibrahim memproyeksikan beberapa level teknikal yang perlu diperhatikan. Ia menilai harga berisiko terkoreksi ke support pertama di US$ 4.088 per troy ounce dan support kedua di US$ 3.859 per troy ounce.

Di sisi lain, jika terjadi penguatan, potensi resistance pertama berada di US$ 4.243 per troy ounce dan resistance kedua di US$ 4.465 per troy ounce, menurut proyeksinya.

Sentimen Geopolitik dan Kebijakan Moneter

Dari sisi geopolitik, Ibrahim menyoroti dinamika di kawasan yang memengaruhi permintaan aset safe haven. Ia mencatat adanya meredanya ketegangan antara AS dan Iran setelah penandatanganan perjanjian tahap pertama perundingan selama 60 hari terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun, ia juga mencatat bahwa serangan antara Israel dan Lebanon masih berlangsung pasca penandatanganan gencatan senjata.

Selain faktor eksternal, kebijakan bank sentral AS juga disebutkan sebagai pijakan utama pergerakan emas. “Kebijakan Bank Sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Warsh berfokus pada stabilitas harga dan pengentasan inflasi ke target 2%. Selain itu, (The Fed) juga secara resmi menghentikan praktek pemberian panduan ke depan,” ujar Ibrahim. Menurutnya, langkah ini dimaksudkan agar pasar lebih memusatkan perhatian pada indikator ekonomi makro yang objektif.

Peran Supply dan Demand

Dalam aspek ketersediaan dan permintaan, Ibrahim mencatat adanya peningkatan pembelian emas oleh bank-bank sentral. Menurut pengamatannya, pada saat harga mengalami penurunan signifikan, bank sentral cenderung menambah cadangan logam mulia.

“Total pembelian emas oleh bank sentral pada Mei 2026 mencapai 244 ton,” ia menyoroti sebagai faktor yang dapat mendorong kenaikan harga jika permintaan tetap tinggi.