Langkah korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) lewat akuisisi Aster kini menunjukkan hasil nyata pada struktur bisnis dan kinerja keuangan perusahaan.

Transformasi itu terlihat dari pergeseran sumber pendapatan dan lonjakan aset yang terjadi sejak penyelesaian akuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP)—yang kini bernama Aster—pada 2025.

Energi Menjadi Kontributor Utama

Menurut analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik, dalam tiga tahun terakhir Chandra Asri berhasil mereformasi portofolionya. Perusahaan yang sebelumnya banyak bergantung pada bisnis petrokimia kini berkembang menjadi platform terintegrasi di bidang energi, kimia, dan infrastruktur regional.

Dengan masuknya Aster, Chandra Asri memperoleh kilang berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun. Aset ini langsung menggeser struktur pendapatan perusahaan.

Data kuartal I-2026 menunjukkan segmen energi menyumbang 55% dari total pendapatan konsolidasi, sementara segmen kimia 42% dan infrastruktur 3%. Pergeseran tersebut beriringan dengan capaian laba operasi (EBIT) sebesar US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta pada periode yang sama.

Manuver Akuisisi dan Dampak Akuntansi

Transaksi pembelian Aster melalui CAPGC, perusahaan patungan bersama Glencore, dilakukan dengan nilai investasi US$ 255 juta. Angka ini tercatat jauh di bawah nilai buku asli US$ 933 juta, sehingga menghasilkan keuntungan akuntansi berupa bargain purchase gain yang memperkuat modal perusahaan.

Selain itu, Chandra Asri sebelumnya telah mengakuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso, membangun rantai nilai hulu-ke-hilir mulai dari pemurnian hingga penjualan ke konsumen akhir.

Proyek Ekspansi dan Penguatan Infrastruktur

Ke depan, Chandra Asri melanjutkan ekspansi proyek hilirisasi. Perusahaan sedang mengembangkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$ 800 juta di Cilegon bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA). Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2027 untuk memasok industri nikel domestik dan pasar PVC global.

Sementara itu, lini infrastruktur yang dikelola melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) diperkuat untuk mengelola air industri, energi, dan logistik pelabuhan. CDIA dihadirkan sebagai penopang pendapatan yang bersifat lebih stabil dibanding bisnis petrokimia hulu.

Fundamental Keuangan Menguat

Kombinasi akuisisi dan pengembangan bisnis membuat posisi keuangan Chandra Asri membaik signifikan pada kuartal I-2026. Total aset tercatat mencapai US$ 12,5 miliar, naik dari US$ 5,7 miliar pada 2024, dengan peningkatan ekuitas menjadi US$ 4,86 miliar dan margin EBIT di level 19,5%.

Penguatan kinerja juga didukung kondisi pasar kilang di Singapura yang menjaga margin di atas US$ 10 per barel, menurut laporan riset yang dikutip perusahaan.

Di pasar modal, porsi saham publik (free float) meningkat menjadi 25,7%, sementara kepemilikan strategis tetap dikuasai Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil sebesar 74,3%.