PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dinilai memasuki babak baru pertumbuhan, dengan proyeksi lonjakan pendapatan dan laba pada 2026 seiring pemulihan produksi di Tambang Batu Hijau dan pengembangan fasilitas hilirisasi.
Analis memproyeksikan peningkatan tajam kinerja keuangan tahun ini, sembari memberi penilaian positif terhadap prospek kenaikan nilai saham perusahaan.
Analisis BRI Danareksa Sekuritas menyebut AMMN masuk “fase pertumbuhan laba baru pada 2026” setelah menyelesaikan masa transisi pengembangan Fase 8 Batu Hijau. Pernyataan itu tercantum dalam riset yang dipublikasikan Senin (29/6/2026).
Pemulihan terlihat pada kuartal I-2026, ketika volume bijih segar (fresh ore) yang ditambang naik menjadi 38 juta ton, dibandingkan 1 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi bijih mendorong produksi konsentrat menjadi 167,8 ribu dry metric ton (dmt), naik 110% secara year on year, terdiri atas 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas.
Perusahaan juga mulai bertransformasi dari produsen konsentrat menjadi produsen logam terintegrasi. Pada kuartal I-2026, fasilitas smelter dan pabrik pemurnian logam mulia (precious metal refinery/PMR) menghasilkan 27,7 ribu ton katoda tembaga serta 66,2 ribu ons emas murni.
Hilirisasi tersebut meningkatkan kualitas pendapatan AMMN karena menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Ekspansi Kapasitas Pengolahan
Fasilitas pengolahan baru yang dijadwalkan mulai menerima bijih pertama pada kuartal III-2026 akan menambah kapasitas pengolahan dari sekitar 40 juta ton per tahun menjadi 85 juta ton per tahun, membuka ruang bagi peningkatan volume produksi jangka panjang.
Dalam proyeksinya, analis memperkirakan pendapatan AMMN tahun ini mencapai US$4 miliar, naik 117% year on year, dan EBITDA sebesar US$2 miliar, meningkat 97% year on year. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan produksi Batu Hijau sebesar 130% year on year.
Target Harga Saham
BRI Danareksa Sekuritas memulai cakupan risetnya dengan rekomendasi beli untuk saham AMMN dan memasang target harga Rp6.000 per saham, yang mengindikasikan potensi kenaikan lebih dari 80% dari level saat penilaian.
Penetapan target harga tersebut menggunakan metode sum of the parts (SOTP), yakni penilaian berdasarkan nilai masing-masing unit bisnis. Analis menilai potensi peningkatan valuasi masih terbuka melalui upaya hilirisasi dan pengembangan proyek Elang.
Saat ini saham AMMN diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA sebesar 6,7 kali berdasarkan proyeksi 2026, yang dinilai masih lebih rendah dibandingkan perusahaan tambang tembaga dan emas global. Diskon valuasi disebut terjadi karena rasio 2025 terdistorsi oleh masa transisi operasional.
Risiko yang Diidentifikasi
Riset juga mengidentifikasi sejumlah risiko utama, antara lain gangguan operasional smelter, keterlambatan pembangunan fasilitas pengolahan baru, koreksi harga tembaga dan emas, potensi kenaikan tarif royalti, serta perkembangan proyek Elang yang berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Ikuti Ihram.co.id
