Riset menilai PT Gudang Garam Tbk (GGRM) berpeluang mencatatkan perbaikan kinerja keuangan tajam pada 2026, didorong normalisasi biaya operasional bandara dan peningkatan harga produk.

Perbaikan laba dan potensi dividen besar dinilai akan menjadi pemicu penguatan harga saham perusahaan ke level target yang telah ditetapkan analis.

Penurunan Biaya Bandara

Berdasarkan riset CGS International, biaya operasional Bandara Dhoho Kediri turun menjadi Rp413 miliar pada kuartal I-2026 dari Rp553 miliar pada kuartal sebelumnya. Untuk seluruh 2026, biaya bandara tersebut diperkirakan turun sekitar 15%.

CGS mencatat pula bahwa perusahaan telah menaikkan harga produk andalan, yaitu Surya dan Surya Pro Mild, sebesar 2% sepanjang tahun berjalan. Di pasar perdagangan umum, penjualan produk andalan GGRM juga dilaporkan meningkat.

Proyeksi Laba, EPS, dan Dividen

“Bersama dengan penaikan harga secara bertahap, kami prediksi GGRM mencetak lonjakan laba bersih per saham (EPS) 179% tahun 2026, terbesar di sektor tembakau nasional,” tulis CGS.

CGS menaikkan proyeksi laba bersih per saham GGRM sebesar 125–140% untuk 2026 dan 2027. Untuk periode 2026–2028, CGS memperkirakan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) EPS sebesar 13%.

Dalam proyeksi CGS, pendapatan GGRM pada 2026 diperkirakan mencapai Rp79,5 triliun dengan laba bersih Rp4,3 triliun dan EPS Rp2.259. Pada 2027, diperkirakan pendapatan Rp74,6 triliun, laba bersih Rp5,2 triliun, dan EPS Rp2.744.

Mengenai kebijakan dividen, CGS memprediksi pembayaran dividen GGRM untuk 2026 (tahun buku 2025) sebesar Rp726 per saham, sebelum naik menjadi Rp2.033 per saham pada 2027.

Rekomendasi dan Target Harga

CGS mempertahankan rekomendasi add untuk saham GGRM dengan target harga Rp20.300. Penetapan target ini menggunakan asumsi rasio harga terhadap laba (PER) 2026 sebesar 9 kali, dibandingkan sebelumnya 15 kali—setara dengan -1 standar deviasi dari rata-rata lima tahun.