Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) berpeluang mendekati bahkan menembus level Rp 3 juta per gram pada akhir 2026. Prospek itu didasari kombinasi faktor global, termasuk potensi penurunan suku bunga Amerika Serikat, meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral, serta ketidakpastian geopolitik.
Pada Selasa, 16 Juni 2026, harga emas Antam tercatat stabil di Rp 2.729.000 per gram berdasarkan data Logam Mulia. Sepanjang 2026, harga emas Antam naik 9,68% dari posisi Rp 2.488.000 per gram pada 1 Januari 2026. Rekor tertinggi sepanjang masa tercatat pada 29 Januari 2026 di level Rp 3.168.000 per gram.
Faktor Pendorong Harga
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pembukaan kembali Selat Hormuz pasca-kesepakatan damai antara AS dan Iran bisa menekan harga minyak mentah dunia. Namun, menurut Ibrahim, kondisi tersebut justru bisa menjadi sentimen positif bagi pasar emas.
Ia memaparkan bahwa harga minyak yang kini bergerak di bawah US$ 80 per barel berpeluang turun menuju kisaran US$ 75 per barel seiring normalisasi pasokan energi global. “Ketika harga minyak turun, biaya logistik dan transportasi ikut menurun sehingga tekanan inflasi global berkurang. Kondisi ini membuka peluang bagi The Fed untuk mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga,” kata Ibrahim, Selasa (16/6/2026).
Prospek Teknis dan Permintaan Bank Sentral
Ibrahim menjelaskan bahwa prospek pelonggaran kebijakan moneter AS akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Selain itu, penguatan mata uang negara berkembang terhadap dolar AS juga berpeluang mendorong peralihan investasi ke emas fisik maupun emas digital.
Dari sisi teknikal, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia masih memiliki ruang kenaikan hingga akhir tahun dengan potensi bergerak menuju level US$ 4.874 per ons troi. “Jika target tersebut tercapai, harga emas Antam berpeluang mendekati bahkan menembus Rp 3 juta per gram pada akhir tahun,” ujarnya.
Selain faktor suku bunga, permintaan dari bank sentral dunia diperkirakan tetap kuat. Menurut Ibrahim, beberapa negara besar seperti China dan India terus menambah cadangan emas sebagai strategi diversifikasi aset. Ia menambahkan bahwa bank sentral global diperkirakan membeli sekitar 800 ton emas sepanjang 2026 untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Kesimpulan Sementara
Berdasarkan kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang dikemukakan Ibrahim, tren kenaikan harga emas diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun. Dengan dukungan permintaan bank sentral dan dinamika suku bunga, emas Antam memiliki potensi mencetak rekor harga baru dan mendekati level psikologis Rp 3 juta per gram.
Ikuti Ihram.co.id
