JAKARTA — Sejumlah analis memperkirakan harga emas akan kembali mengalami tekanan dalam jangka menengah. Ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve disebut sebagai pemicu utama.

Pada perdagangan Senin (23/6/2026) harga emas tercatat menguat ke level US$ 4.181 per troy ounce, setelah sebelumnya mengalami penurunan pada pekan ketiga bulan lalu. Namun, para pengamat memperingatkan kenaikan tersebut belum mengubah prospek jangka menengah yang masih rentan.

Peran Kebijakan The Fed

Para analis di Heraeus mencatat bahwa pergerakan harga emas terguncang setelah Federal Reserve menarik kembali sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Meskipun The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5% hingga 3,75%, nada pelonggaran yang sempat diantisipasi pasar dihapus dari pernyataan resmi.

— “Harga emas memulai minggu ini dengan kuat, tetapi meskipun The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di 3,5% hingga 3,75%, bias pelonggaran kebijakan moneter telah dihapus dari pernyataan tersebut,” ungkap analis di Heraeus.

Heraeus juga menyinggung data inflasi AS yang menjadi salah satu faktor pengubah ekspektasi pasar. Mereka mengutip tekanan inflasi yang masih kuat, dengan indeks harga konsumen (CPI) AS mencapai 4,2% pada Mei, atau lebih dari dua kali target Fed sebesar 2%.

Pengaruh Harga Minyak dan Rantai Pasok

Selain kebijakan moneter, prospek harga minyak juga disebut berperan dalam membentuk sentimen terhadap emas. Heraeus memperkirakan penguatan harga emas yang berkelanjutan membutuhkan waktu berbulan-bulan karena lonjakan harga minyak berpotensi mempertahankan inflasi dan suku bunga bank sentral tetap tinggi.

“Meskipun secara teori minyak dapat masuk ke pasar melalui Selat Taiwan, kendala praktis seputar pembukaan kembali Selat tersebut mungkin akan sangat signifikan,” kata para analis.

Mereka menambahkan bahwa proses pembersihan ranjau dan pengasuransian kapal tanker akan memakan waktu, sehingga menghambat pasokan minyak yang langsung melimpah ke pasar. Waktu pengiriman tanker yang diperkirakan 4–6 minggu juga dipandang akan memperlambat arus pasokan ke tujuan akhir.

“Kedua faktor ini, bersama dengan pembangunan kembali cadangan minyak yang tak terhindarkan dalam beberapa bulan mendatang, akan mendorong kenaikan harga minyak yang telah meningkat sejak awal konflik. Hal ini, pada gilirannya, dapat menjaga harga energi tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama dan memengaruhi kebijakan moneter di seluruh dunia,” jelas para analis di Heraeus.