Harga minyak dunia berpeluang turun dalam beberapa hari ke depan meski ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Analis menilai faktor pasokan dan kelancaran jalur distribusi menjadi penekan utama pergerakan harga.

Pada awal perdagangan Senin (29/6/2026) harga minyak sempat menguat setelah terjadi serangkaian serangan militer, namun penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menutup potensi koreksi karena kondisi pasokan yang longgar.

Pergerakan Harga Terakhir

Di pasar berjangka, kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik tipis menjadi US$ 69,72 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent tercatat menguat ke level US$ 72,25 per barel.

Penyebab Pasokan Longgar

Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengamati, meskipun konflik di kawasan Timur Tengah memanas, Selat Hormuz tetap dibuka sehingga distribusi energi berlangsung normal. Kondisi ini, menurutnya, membatasi laju kenaikan harga minyak.

“Produksi minyak mentah di Venezuela juga tidak terpengaruh bencana gempa karena tidak berdampak ke kilang minyak (lokal). Ini membuat harga minyak mentah condong mengalami penurunan,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (29/6/2026).

Ibrahim menambahkan, saat ini terjadi oversupply pada minyak mentah. “(Ditambah lagi) Iran sekarang sudah memproduksi 4,3 juta barrel minyak per hari sehingga akan terjadi oversupply menyusul ketegangan geopolitik,” ujarnya.

Proyeksi Harga

Berdasarkan penilaian Ibrahim, harga minyak dalam sepekan ke depan berpeluang bergerak di sekitar US$ 64.500 per barrel. Meski demikian, ia tetap mengantisipasi kemungkinan kenaikan kembali ke level resistance US$ 75.100 per barrel.