PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tercatat mengalami koreksi harga pada pekan ini, namun analis masih melihat ruang kenaikan yang signifikan bagi saham emiten telekomunikasi pelat merah tersebut.
Pada penutupan Jumat pekan lalu, harga saham TLKM berada di kisaran Rp2.780, turun 6,08% dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, sejumlah rumah riset menetapkan target harga yang lebih tinggi sehingga menyisakan potensi apresiasi bagi investor.
Target Harga dan Rekomendasi
Kiwoom Sekuritas Indonesia menetapkan target harga TLKM di level Rp3.630, atau menawarkan potensi naik sekitar 30,57% dari harga saat ini menurut perhitungan mereka. Sebelumnya, target harga yang diset oleh lembaga ini sempat berada di Rp4.000 per saham, namun telah direvisi turun.
Dalam risetnya, Kiwoom menyatakan menggunakan metode valuasi gabungan antara EV/EBITDA dan Discounted Cash Flow (DCF). Perhitungan mereka mencerminkan forward P/E sebesar 13,7x, EV/EBITDA 4,4x, dan PBV 2,2x. Di samping itu, mereka mencatat estimasi rasio P/E sekitar 10,85x saat finish pada harga Rp2.860 per saham.
Kiwoom mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Telkom meski mencatat beberapa risiko yang bisa membebani kinerja perseroan.
Risiko dan Tantangan Operasional
Analis Kiwoom menyorot beberapa tantangan bagi Telkom, termasuk tekanan terhadap average revenue per user (ARPU), persaingan yang intens di industri, kebutuhan belanja modal yang besar, percepatan perubahan teknologi, serta potensi regulasi dan intervensi pemerintah.
Data internal menunjukkan penurunan ARPU seluler sebesar 3,2% secara tahunan menjadi sekitar Rp43.000, sementara ARPU IndiHome turun 9,9% year-on-year menjadi sekitar Rp214.000. Jumlah pelanggan seluler dilaporkan relatif stabil di angka 159,1 juta, dan pelanggan IndiHome segmen B2C tumbuh 7,4% menjadi 10,3 juta pengguna.
Meski melakukan ekspansi jaringan dengan menambah site BTS menjadi 293 ribu unit (naik 8,1% yoy), konsumsi data pelanggan dilaporkan turun 14,3% secara tahunan menjadi 17,47 TB. Kombinasi penurunan ARPU dan persaingan yang ketat disebut berpotensi menahan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas.
Penilaian dari Lembaga Lain
Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai harga saham Telkom saat ini masih di bawah nilai wajar yang mereka tetapkan, yakni Rp3.400 per saham. KISI mengombinasikan tiga metode valuasi untuk mencapai angka tersebut.
Pertama, asumsi P/E di level 14x dengan estimasi earnings per share (EPS) penuh tahun 2026 sebesar Rp232. Kedua, mereka mempertimbangkan imbal hasil dividen ditargetkan 6,5% dengan dividend per share (DPS) sebesar Rp207. Ketiga, perhitungan EV/EBITDA di level 4,8x dengan proyeksi EBITDA FY26 sebesar Rp76,2 triliun.
KISI juga mencatat posisi Telkom sebagai pemimpin pasar: menguasai lebih dari 60% pangsa pasar seluler lewat Telkomsel dan menjadi penguasa pasar fixed broadband lewat IndiHome dengan sekitar 10,3 juta pelanggan. Neraca keuangan TLKM dinilai relatif kuat dan defensif dibandingkan emiten telekomunikasi lain, sehingga menarik sebagai saham dengan kualitas dividen.
Proyeksi Pendapatan dan Laba
Proyeksi yang dikutip oleh KISI menunjukkan pertumbuhan pendapatan dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 1,7% menuju level Rp157,2 triliun pada 2028. Pertumbuhan tersebut dinilai terbatas karena pasar telekomunikasi yang sudah matang dan jumlah pelanggan seluler yang stabil.
Segmen fixed broadband (IndiHome) diproyeksikan menjadi penggerak pertumbuhan, dengan jumlah pelanggan diperkirakan naik sekitar 30% menjadi 13,4 juta pelanggan pada 2028. Meski menghadapi tekanan ARPU, KISI memperkirakan Telkom mampu menjaga margin EBITDA di kisaran 50% melalui pengendalian biaya yang disiplin.
Perkiraan laba bersih yang disampaikan mencakup Rp23,1 triliun pada 2026, Rp24,3 triliun pada 2027, dan Rp23,7 triliun pada 2028.
Ikuti Ihram.co.id
