PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menjadi sorotan pasar seiring rekomendasi beli dari sejumlah broker dan lonjakan harga saham pada sesi perdagangan terbaru. Pilarmas Investindo Sekuritas menempatkan level support di 1.760 dan resistance di 2.180 untuk sesi II perdagangan Kamis (25/6/2026).

Per akhir sesi I, harga saham TPIA tercatat naik 6,69% ke Rp 1.915, dengan volume perdagangan 393,4 juta saham, frekuensi 68.401 kali, dan nilai transaksi Rp 729,49 miliar. Data aplikasi Stockbit Sekuritas mencatat net buy sebesar Rp 57,5 miliar pada jeda siang.

Pergerakan Saham dan Aktivitas Asing

Saham TPIA berusaha pulih setelah mengalami penurunan tajam 12,44% pada perdagangan Rabu (24/6/2026), ketika tercatat net sell asing sebesar Rp 218,14 miliar. Lonjakan harga di hari berikutnya diiringi aktivitas beli domestik yang signifikan.

Ekspansi Anorganik Jadi Penggerak Utama

Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal, menyebut strategi ekspansi anorganik sepanjang 2025 hingga awal 2026 sebagai faktor utama pemulihan kinerja TPIA. “Strategi itu secara signifikan memperkuat eksposur Chandra Asri di bisnis energi dan petrokimia hilir,” tulis mereka dalam risetnya.

Rangkaian akuisisi yang disebut meliputi pembelian Singapore Energy and Chemicals Park milik Shell pada April 2025—yang kini beroperasi sebagai Aster Chemicals and Energy (ACE)—serta aset Chevron Phillips Chemical yang beroperasi sebagai Aster Polymer Solutions (APS) sejak Mei 2025. Akuisisi-akuisi ini menambah kapasitas produksi, khususnya untuk produk seperti high-density polyethylene (HDPE).

Pada Juni 2025, TPIA juga mengakuisisi condensate splitter unit (CSU) dari PCS Pte Ltd, yang masih dalam proses revitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas operasional. Memasuki 2026, TPIA menambah lini bisnis energi dengan mengakuisisi jaringan ritel bahan bakar bermerek Esso milik Exxon Mobil pada Januari 2026.

Perubahan Skala Aset dan Kapasitas Produksi

Ashalia menyatakan rangkaian transaksi tersebut mendorong total aset TPIA meningkat 118% secara tahunan menjadi US$ 12,3 miliar pada 2025. Dampak akuisisi juga tercermin pada kenaikan kapasitas produksi perusahaan.

Selama 2020–2024, kapasitas produksi TPIA relatif stagnan di 4.232 KT. Namun pada 2025, berkat akuisisi, kapasitas naik menjadi 8.501 KT.

Proyeksi Hingga 2027

Perusahaan memperkirakan ekspansi berlanjut sepanjang 2026–2027 melalui pengembangan fasilitas MTBE dan Butene-1 serta penyelesaian proyek pabrik chlor-alkali (CA) dan ethylene dichloride (EDC) di Cilegon. “Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap konstruksi. Targetnya mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2027,” ujar Ashalia.

Dengan tambahan kapasitas dari proyek-proyek tersebut, total kapasitas produksi TPIA diproyeksikan mencapai 21.155 KT pada 2027—sekitar 2,5 kali lipat dari kapasitas 2025 dan hampir lima kali lipat dibandingkan posisi 2024.

“Prospek ini menegaskan bahwa pertumbuhan laba TPIA tidak hanya bergantung pada dampak awal akuisisi yang dilakukan pada 2025, tetapi juga ditopang oleh ekspansi kapasitas yang berkelanjutan,” tambah Ashalia.

Pemulihan Kinerja Kuartal I-2026

Pada kuartal I-2026, TPIA mencatat pemulihan kinerja yang kuat. Pendapatan melonjak 286% secara tahunan menjadi US$ 2,4 miliar, dan perusahaan berhasil mencatat laba bersih US$ 140,7 juta, berbalik dari posisi rugi pada kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Dengan landasan aset dan kapasitas yang membesar, analis menilai segmen kimia TPIA memiliki basis yang kuat untuk memperbesar kontribusi terhadap kinerja perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.