Saham PT Astra International Tbk (ASII) tercatat menguat 6,03% ke level Rp4.920 pada penutupan perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah tiga hari berturut-turut terkoreksi. Perdagangan hari itu melibatkan 88,50 juta saham dengan frekuensi 22.339 kali dan nilai transaksi Rp430,52 miliar.
Dalam sepekan terakhir, saham ASII naik 3,14%, namun pada periode satu bulan masih turun 8,89%. Beberapa analis menilai harga saham tersebut relatif murah jika dilihat dari rasio valuasi historis perusahaan.
Rasio Valuasi Di Bawah Rata-Rata
Berdasarkan data aplikasi Sekuritas, price to book value (PBV) ASII tercatat 0,86 kali, berada di bawah -1 standard deviation PBV tiga tahun terakhir sebesar 0,9 kali. Sementara price earning ratio (PER) tercatat 6,29 kali (TTM), juga di bawah mean PER tiga tahun terakhir sebesar 6,87 kali.
Mandiri Sekuritas pada valuation 24 Juni 2026 merekomendasikan buy untuk saham Astra dengan target harga Rp7.000.
Kinerja Keuangan dan Total Pengembalian
Catatan Verdhana Sekuritas menunjukkan laba bersih Astra meningkat tajam dalam satu dekade, dari sekitar Rp13 triliun menjadi Rp33 triliun. Dividen per saham juga tercatat naik dari Rp113 menjadi Rp390.
Meskipun demikian, total shareholder return (TSR) tercatat rendah, sekitar 6% per tahun. Verdhana menyatakan sudah ada roadmap perusahaan untuk menutup selisih antara lonjakan kinerja keuangan dan rendahnya TSR.
Fokus Bisnis Inti untuk Meningkatkan TSR
Verdhana mengidentifikasi tiga bisnis inti yang akan diperkuat Astra: otomotif, pembiayaan, serta alat berat dan pertambangan. Pada segmen otomotif, perusahaan akan mempertahankan pangsa pasar, memperkuat layanan purnajual, serta mengembangkan bisnis mobil bekas dan skema tukar tambah.
Di bisnis pembiayaan, langkah yang direncanakan adalah memonetisasi sekitar 4,5 juta konsumen aktif dan memanfaatkan database 30 juta catatan pelanggan. Untuk unit alat berat dan pertambangan, strategi meliputi perluasan jasa kontrak penambangan, layanan purnajual yang menghasilkan pendapatan dalam dolar AS, ekspansi ke mineral lain, dan penerapan praktik ESG.
Dividen, Capex, dan Buyback
Verdhana mencatat perusahaan akan menjaga disiplin modal dengan membatasi belanja modal (capex) dan mempertahankan rasio dividen di kisaran 45–50%. Selain itu, terdapat rencana buyback saham senilai Rp8 triliun dalam 12 bulan ke depan.
Verdhana memandang agenda peningkatan TSR bukan sekadar aspirasi, melainkan bagian dari indikator kinerja (KPI) manajemen. Untuk itu, buyback disebut sebagai salah satu langkah konkret mencapai target tersebut.
Berdasarkan penilaian yang sama, Verdhana mempertahankan rekomendasi buy untuk ASII dengan target harga Rp7.000, setara PER 9,4 kali dan ekuitas yang disejajarkan dengan pemegang kendali.
Ikuti Ihram.co.id
