Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pemerintah AS dapat menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan jika dana tersebut digunakan untuk membeli bahan pangan Amerika Serikat, termasuk kedelai, jagung, dan gandum.

Vance menyebut proposal tersebut sebagai cara untuk memastikan uang yang dicairkan hanya dipakai untuk kepentingan warga Iran dan bukan untuk mendanai kegiatan terorisme. Ia menyatakan ide itu mirip dengan solusi yang diajukan Jared Kushner bersama Qatar, di mana aset Iran yang dibuka nantinya dipergunakan untuk pembelian komoditas pertanian AS bagi rakyat Iran.

Komentar Vance disampaikan usai ronde perundingan lanjutan antara delegasi AS dan Iran yang berlangsung di Obbuergen, Swiss, dan ditujukan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Pembicaraan Dasar Untuk Kesepakatan

Vance mengatakan pembicaraan damai itu telah meletakkan fondasi yang kuat untuk mencapai kesepakatan akhir. “Kesepakatan akhir adalah rumahnya. Kami telah meletakkan fondasinya. Kami belum membangun rumahnya, tetapi kami telah meletakkan fondasi yang sukses untuk mencapai tempat yang baik bagi rakyat Amerika,” ujarnya.

Ronde pertemuan antara Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf merupakan bagian dari serangkaian pembicaraan awal yang berlangsung sejak Minggu (21/06/2026) dan berlanjut hingga Senin dini hari waktu setempat. Meski diwarnai momen-momen sulit, pembicaraan menghasilkan sejumlah kesepakatan teknis yang akan dilanjutkan di Swiss pekan ini.

Peran Mediator dan Isu Teknis

Pakistan dan Qatar, yang bertindak sebagai mediator, dalam pernyataan bersama menyebut negosiasi tingkat tinggi telah selesai namun pembicaraan teknis akan berlanjut. Para mediator menilai ada kemajuan signifikan selama pertemuan tersebut.

Seorang diplomat senior AS menyatakan ada kemajuan dalam beberapa bidang, termasuk pembentukan mekanisme untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka serta gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.

Gangguan Pernyataan Trump

Pembicaraan juga sempat terguncang oleh pernyataan keras Presiden AS Donald Trump yang menyinggung Iran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pertemuan sempat terhenti setelah tersebarnya pesan yang dianggap menghina oleh Trump, namun delegasi Iran akhirnya tetap berada di lokasi dan negosiasi berlanjut.

Trump mengeluarkan peringatan melalui wawancara dan unggahan di media sosial saat para negosiator bekerja. Dalam salah satu pernyataan yang diunggahnya, Trump menuntut Iran menghentikan aktivitas proksi di Lebanon dan memperingatkan akan melakukan serangan yang lebih keras jika hal itu tidak dihentikan.

Respons Iran

Menjelang perundingan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan mundur dari haknya untuk memperkaya uranium. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mencatat kemajuan yang dicapai berkat upaya mediasi Pakistan dan Qatar, namun menekankan bahwa ujian nyata adalah apakah mekanisme yang disepakati mampu menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah.