Penyesuaian harga energi non-subsidi, termasuk gas alam cair (LNG), menempatkan pelaku pasar pada situasi sulit. Lonjakan indeks harga acuan di kawasan Asia Pasifik mendorong harga spot LNG naik tajam sepanjang 2026.
Praktisi migas Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan fluktuasi harga LNG bergantung pada apakah pasokan didapat melalui kontrak jangka panjang atau pembelian spot. “Spot bisa lebih murah atau lebih mahal seperti kondisi sekarang. Kalau mengikuti harga pasar ya naik turun harga adalah hal yang biasa, dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG,” ujar Widhyawan di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Lonjakan Harga Spot dan Dampaknya
Widhyawan menegaskan kenaikan harga LNG berbasis spot dipicu oleh lonjakan Japan Korea Marker (JKM). Data pasar mencatat indeks JKM sepanjang 2026 mengalami kenaikan sekitar 111 persen. “Jadi memang naik cukup tinggi,” katanya.
Kenaikan harga spot juga mendorong naiknya Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan JCC dan Brent secara proporsional. Pada April 2026, ICP tercatat naik sekitar 99 persen dibanding rencana awal tahun.
Kontrak Jangka Panjang dan Basis Harga
Selain harga spot, Widhyawan—yang pernah menjabat Gubernur Indonesia untuk OPEC—menjelaskan banyak pembelian LNG dilakukan berdasarkan kontrak. “Pembeli yang mempunyai kesepakatan berdasarkan kontrak biasanya menggunakan basis harga minyak (oil index),” jelasnya.
Kontrak ekspor LNG dari Indonesia masih mengikat sebagian pasokan, sehingga diperlukan kesepakatan untuk menjaga pemenuhan kewajiban kontraktual. Di dalam negeri, acuan kontrak mengacu pada ICP, sementara di luar negeri umumnya mengacu pada harga Brent.
Widhyawan menerangkan adanya mekanisme slope, yaitu persentase harga yang mengikuti harga minyak. Besaran slope bervariasi bergantung pada waktu negosiasi dan kondisi pasokan—ketika pasokan melimpah, slope cenderung mengecil, sebaliknya bisa membesar.
Harga Global dan Perbandingan Regional
Menurut Widhyawan, kenaikan harga LNG saat ini terjadi secara luas, tidak hanya di Indonesia. Data pasar menunjukkan harga LNG industri di Filipina sekitar US$28,50 per MMBtu dan di Vietnam sekitar US$27,81 per MMBtu.
Di Singapura, untuk pengguna industri skala besar (bulk) harga mencapai US$40,12 per MMBtu, sedangkan untuk pengguna ritel dan umum tercatat US$47,54 per MMBtu (data April 2026). Sementara itu, penyesuaian harga di Indonesia diperkirakan menempatkan harga LNG di kisaran US$21-25 per MMBtu setelah penyesuaian akibat kenaikan energi global.
Dilema Kebijakan dan Efek pada Industri
Kepala Ekonom BCA David Sumual menyatakan lonjakan harga energi global sebagai dampak kondisi geopolitik menciptakan “twin dilemma.” Industri penyedia energi menghadapi kenaikan biaya operasional dan tekanan regulasi, sementara industri pengguna menanggung kenaikan biaya produksi yang sulit dialihkan ke konsumen.
David mengingatkan bahwa membela satu sektor dengan mengorbankan sektor lain bukan solusi berkelanjutan. “Justru dapat menimbulkan masalah baru,” ujarnya.
Ikuti Ihram.co.id
