Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik naik sejak 9 Juni 2026 disebut sesuai dengan proyeksi metode Time Trading yang diterapkan Astronacci International. Kenaikan itu menembus 18% dari titik terendah hingga mencapai area resistance time pada 15 Juni 2026.

Proyeksi awal Astronacci menyebut 9 Juni 2026 sebagai time bottom atau titik waktu minimum yang berpotensi menjadi awal pembalikan arah pasar, berdasarkan akumulasi time cluster yang melibatkan siklus financial astrology seperti new moon dan moon declination, menurut CEO dan Founder Astronacci, Gema Goeyardi.

Detail Proyeksi dan Realisasi Pergerakan

Astronacci sebelumnya memetakan area gap 5.241–5.390 sebagai zona akumulasi. Setelah IHSG membentuk time bottom pada 9 Juni, indeks bergerak naik hingga menyentuh area resistance time pada 15 Juni 2026—sebuah kenaikan yang ditegaskan mencapai lebih dari 18% dari level terendah.

Gema menjelaskan bahwa kenaikan tersebut sesuai dengan pemetaan siklus waktu yang telah dipublikasikan, baik untuk publik maupun pelanggan riset premium. Ia menambahkan bahwa kondisi koreksi sebelumnya merupakan bagian dari siklus yang mendekati akhir.

Aksi Investor dan Implikasi Portofolio

Sesuai keterangannya, Gema melakukan akumulasi saham BBRI saat pasar berada di area tekanan pada 9 Juni 2026, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar hingga Rp4 miliar. Posisi tersebut tercatat menghasilkan floating profit sekitar Rp280 juta saat pasar mencapai area resistance time pada 15 Juni.

“Kami selalu menekankan bahwa market bergerak berdasarkan siklus. Saat mayoritas pelaku pasar fokus pada ketakutan, tugas kami adalah mengidentifikasi kapan fase kepanikan tersebut mendekati akhir,” ujar Gema Goeyardi.

Prospek Jangka Pendek dan Saran Strategis

Dalam pembaruan riset tertanggal 17 Juni 2026, Astronacci menyatakan pasar memasuki fase evaluasi setelah mencapai area resistance time. Menurut analisis Time Geometry mereka, titik 15 Juni menjadi waktu kunci yang berpotensi memicu koreksi sementara untuk menutup gap yang terbentuk selama proses rebound.

Meskipun demikian, Astronacci menilai koreksi singkat tidak otomatis membatalkan prospek bullish sejak time bottom 9 Juni, asalkan IHSG tetap menjaga area support penting dan tidak kembali menembus kisaran low 5.241–5.390. Dalam skenario tersebut, koreksi berpotensi hanya membentuk higher low sebelum melanjutkan tren kenaikan.

Gema menjelaskan bahwa turunnya IHSG setelah sempat menguat adalah bagian normal dari proses yang terjadi di area resistance time, dan menyebut profit taking serta koreksi sehat sebagai hal wajar. Ia menekankan pentingnya menyiapkan strategi reakumulasi ketika harga mulai memasuki area-area support dan muncul konfirmasi pembalikan arah.

“Selama area support penting masih mampu dipertahankan dan tidak terjadi breakdown ke bawah area low sebelumnya, kami melihat koreksi yang terjadi saat ini masih merupakan bagian normal dari proses pembentukan tren naik yang lebih besar,” tambah Gema.

Manajemen Risiko dan Rekomendasi

Astronacci mengingatkan pelaku pasar untuk menerapkan manajemen risiko, termasuk pengamanan keuntungan secara bertahap saat pasar mencapai area resistance yang telah dipetakan. Mereka menyarankan take profit bertahap dibanding menahan seluruh posisi tanpa langkah mitigasi risiko.

Selain menunggu konfirmasi pergerakan harga setelah tanggal siklus penting, Astronacci menekankan bahwa konfirmasi dapat dilihat dari kemampuan harga mempertahankan level support dan struktur higher low yang telah terbentuk.

Pengaruh Terhadap Nilai Tukar

Gema juga mencatat pergerakan nilai tukar rupiah yang menurut analisis Astronacci bergerak sesuai target sebelumnya—dari sekitar Rp18.220 per dolar AS kemudian menguat ke kisaran Rp17.700 per dolar AS. Ia menyebut pendekatan berbasis siklus waktu relevan tidak hanya untuk pasar saham tetapi juga untuk pergerakan mata uang.

Dengan realisasi proyeksi reversal 9 Juni 2026 yang diikuti kenaikan menuju area resistance time 15 Juni 2026, Astronacci menilai metode Time Trading kembali menunjukkan konsistensi dalam mengidentifikasi momentum penting pasar. “Fokus berikutnya kini tertuju pada bagaimana IHSG merespons area resistance waktu tersebut, dan apakah koreksi yang terjadi nantinya mampu membentuk higher low sebagai fondasi bagi tren kenaikan selanjutnya,” tutup Gema Goeyardi.