PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat laba bersih bank only sebesar Rp20,42 triliun hingga Mei 2026, naik 9,53% secara tahunan. Perolehan pada Mei tercatat Rp4,52 triliun, tumbuh 12,14% secara bulanan.

Pendorong utama kinerja adalah akselerasi penyaluran kredit dan efisiensi biaya dana. Hingga akhir Mei 2026, penyaluran kredit mencapai Rp1.417,19 triliun atau tumbuh 12,23% secara tahunan, melampaui target pertumbuhan grup FY26 dan rata-rata industri perbankan nasional.

Performa Bunga Dan Struktur Dana

Meskipun kredit tumbuh kuat, pendapatan bunga tercatat stagnan di level Rp66,76 triliun atau turun tipis 0,07% yoy hingga Mei 2026. Beban bunga justru turun signifikan 14,38% yoy menjadi Rp18,26 triliun, sejalan dengan upaya mengoptimalkan penghimpunan dana murah (CASA).

Hingga akhir Mei, dana pihak ketiga tercatat Rp1.546,44 triliun (+8,61% yoy) dengan dana murah mencapai Rp1.092,27 triliun (+17,98% yoy). Rinciannya: giro Rp484,90 triliun (+25,23% yoy), tabungan Rp607,37 triliun (+12,78% yoy), dan deposito Rp454,16 triliun (-8,82% yoy).

Hal-Hal Yang Masih Jadi Tantangan

Efisiensi biaya dana menjaga pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 6,64% yoy menjadi Rp48,50 triliun, meski NII menurun 7,95% secara bulanan. Net interest margin (NIM) berada pada 5,55% per Mei 2026 dan 6,09% kumulatif 5 bulan, masih di bawah target grup 7,4–7,8%.

Tekanan likuiditas mulai terlihat. Loan to deposit ratio (LDR) tercatat 91,64% pada Mei 2026, menandakan ruang ekspansi kredit bisa menyempit jika pertumbuhan DPK tidak meningkat.

Kualitas aset juga menjadi perhatian dengan kenaikan biaya provisi. Hingga Mei, provisi mencapai Rp19,06 triliun (+7,50% yoy), sedangkan pada Mei tercatat Rp4,42 triliun (+16,45% mtm). Biaya kredit (CoC) melambung menjadi 3,35% kumulatif 5M26 dan 3,80% pada Mei, melebihi target grup 2,9–3,2%.

Sumber Pendapatan Lain dan Profitabilitas

Di luar pendapatan bunga, pendapatan komisi/fee tumbuh menjadi Rp8,59 triliun (+4,48% yoy). Rasio profitabilitas tetap terjaga dengan return on assets (ROA) sebesar 2,44% dan return on equity (ROE) sebesar 16,43% hingga akhir Mei 2026.

Secara keseluruhan, meski laba tumbuh dibandingkan periode sebelumnya, pertumbuhan tersebut dipengaruhi efek basis rendah dan masih menyisakan tantangan dari sisi margin, provisi, dan likuiditas.