Bursa mencatat tanda-tanda berbaliknya arus modal asing. BRI Danareksa Sekuritas menyebut arus keluar investor asing di Bursa Efek Indonesia mulai melambat, sementara akumulasi kembali terlihat pada saham perbankan besar.
Dalam riset yang dirilis Rabu (17/6/2026), analis Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi mengungkapkan bahwa investor asing tercatat masih melakukan penjualan bersih sejak 2 Juni, tetapi laju penjualan telah menyusut.
“Sejak laporan kami pada 2 Juni, arus dana asing di pasar saham masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 11,9 triliun. Namun, laju arus keluar tersebut mulai melambat,” tulis Erindra dan Wilastita.
Menurut laporan itu, akumulasi mulai tampak pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Selain itu, masuknya dana ke PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) pada 15 Juni dianggap sebagai indikasi tekanan jual dari investor pasif telah mereda.
Erindra juga mencatat saham PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan indikasi awal rotasi dana menuju emiten yang berpotensi mendapat manfaat dari perubahan kebijakan dan perbaikan kinerja laba.
IHSG Masih Di Bawah Skenario Pesimistis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut masih mencoba pulih dan saat ini berada di bawah apa yang digambarkan dalam bear case di level 6.550.
“Hal tersebut mengindikasikan bahwa pasar masih mencerminkan ekspektasi yang sedikit lebih buruk dibandingkan kemungkinan realistis berupa revisi prospek (outlook) oleh S&P,” tulis para analis.
Fokus Pasar Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, riset menyebut perhatian pasar terarah pada hasil tinjauan prospek dan peringkat utang Indonesia oleh S&P serta evaluasi aksesibilitas pasar oleh MSCI.
“Apabila kedua hasil tersebut tidak membawa kejutan negatif, kami meyakini pasar berpotensi bergerak menuju skenario dasar (base case) kami,” kata laporan itu.
Target dan Faktor Pemulihan
BRI Danareksa mempertahankan target IHSG akhir 2026 pada level 7.200. Laporan menyoroti perbaikan koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sebagai pemicu utama pemulihan pasar.
Riset juga merujuk pada keputusan tak terduga Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin serta penyesuaian imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun. Penyesuaian harga Pertamax disebut turut mengurangi sebagian beban subsidi pemerintah.
Selain itu, peran DSI diperjelas sebagai lembaga survei (surveyor), bukan pelaku perdagangan (trader), sementara pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait skema gross split dan percepatan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disebut turut mengurangi risiko regulasi di sektor logam dan batu bara.
Ikuti Ihram.co.id
