Warren Buffett menyatakan bahwa ukuran kesuksesan sejati bukanlah jumlah aset di rekening bank, melainkan dampak yang ditinggalkan pada orang lain. Pernyataan itu ia sampaikan saat berdialog dengan mahasiswa di Georgia Tech, mengingatkan pentingnya unsur kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi.

Di masa ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi mengubah banyak aspek pekerjaan, Buffett menekankan bahwa cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang di sekitarnya akan menentukan warisannya.

“Jika Anda mencapai usia saya dan tidak ada orang yang menghormati atau menyukai Anda, tidak peduli seberapa besar rekening bank Anda, hidup Anda adalah sebuah bencana,”

Bagi Buffett, ukuran kesuksesan adalah seberapa banyak orang yang benar-benar mencintai dan menghormati Anda. Ia menegaskan bahwa “cinta” yang dimaksud bersifat praktis: tercermin dari kemurahan hati, rasa hormat, dedikasi, dan kepercayaan.

Empat Cara Memimpin Dengan “Hati” Di Era AI

  1. Memberi Lebih Dari Mengambil. Manfaat efisiensi yang dihasilkan AI digunakan untuk menginvestasikan kembali pada tim, misalnya melalui pelatihan, mentoring, dan penguatan hubungan kerja.
  2. Membangun Budaya Yang Memanusiakan. Hindari lingkungan kerja yang terlalu transaksional; ciptakan suasana yang aman secara psikologis di mana karyawan merasa dihargai dan bukan sekadar pelaksana tugas.
  3. Terapkan Platinum Rule. Jika Golden Rule berbunyi “perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan”, maka Platinum Rule meminta pemimpin memperlakukan orang sebagaimana mereka ingin diperlakukan, karena respons tiap individu terhadap perubahan teknologi berbeda-beda.
  4. Fokus Pada Pekerjaan Yang Bermakna. Gunakan AI untuk membebaskan karyawan dari tugas repetitif agar mereka dapat menekankan kreativitas, pemecahan masalah, dan interaksi yang memberi kepuasan.

Buffett menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Ketika metrik kuartalan dan produktivitas tak lagi diingat, yang tertinggal adalah bagaimana seorang pemimpin memperlakukan orang lain dengan martabat dan kepercayaan.

Adopsi teknologi canggih diperlukan untuk bertahan dalam persaingan global. Namun, menurut pandangan Buffett, organisasi yang bertahan lama adalah yang mampu mempertahankan loyalitas dan semangat sumber daya manusianya, bukan hanya yang tercepat mengadopsi alat baru.

Filosofi ini berfungsi sebagai kompas moral: investasi terbaik bagi pemimpin bukan sekadar pada algoritma, melainkan pada karakter dan kualitas hubungan antarmanusia. Warisan seorang pemimpin, pada akhirnya, diukur dari jejak positif yang ia tinggalkan pada tiap individu yang dipimpinnya.