PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) menyelenggarakan CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026 sebagai upaya memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik. Forum itu mempertemukan pelaku usaha, regulator, dan akademisi untuk merumuskan strategi merespons disrupsi logistik.

Acara bertajuk Resilient Supply Chain: Navigating Global Disruption Through Logistics Collaboration diadakan di Soehanna Hall, The Energy Tower SCBD, Jakarta, Kamis (25/6/2026). CKB Logistics menggandeng Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai mitra strategis.

Direktur CKB Logistics, Iman Sjafei, menyatakan dinamika geopolitik telah menciptakan hambatan nyata terhadap jalur perdagangan global. “Ketegangan geopolitik dunia telah menciptakan hambatan nyata. Melalui CKB Supply Chain Forum 2026, kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi. Sinergi ini diperlukan agar risiko dapat dimitigasi dan distribusi tetap berjalan lancar,” ujar Iman.

Iman berharap forum menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus menyusun langkah kolektif dalam menghadapi potensi gangguan terhadap rantai pasok global.

Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, menekankan perubahan fokus perusahaan dari sekadar efisiensi biaya menuju penguatan ketahanan operasional atau resilience-driven. Menurut Ety, ketahanan dibangun lewat jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik sehingga pemulihan bisnis dapat berlangsung lebih cepat saat krisis.

Ety menjelaskan praktik yang perlu diterapkan meliputi manajemen risiko menyeluruh, peningkatan visibilitas operasional, fleksibilitas operasional, kolaborasi, serta perbaikan berkelanjutan. Langkah konkret yang disebutkan antara lain pemetaan risiko dari hulu hingga hilir, penyusunan prosedur kontingensi, dan pemanfaatan Digital Control Tower untuk meningkatkan visibilitas.

Lima Pilar Ketahanan

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menegaskan bahwa ketahanan rantai pasok bukan berarti kebal gangguan, melainkan kemampuan mendeteksi risiko lebih awal, merespons cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak seminimal mungkin.

SCI merekomendasikan lima pilar ketahanan rantai pasok: risk governance, visibility, flexibility, collaboration, dan continuous improvement. Implementasinya meliputi pemetaan risiko end-to-end, penyediaan pemasok alternatif, penyusunan SOP kontingensi, pembangunan sistem peringatan dini, serta pemanfaatan digital control tower.

Setijadi menambahkan bahwa digital control tower bukan sekadar dashboard teknologi tetapi model operasional yang mengintegrasikan data, proses bisnis, sumber daya manusia, tata kelola, dan pengambilan keputusan secara terpadu.

SCI juga memproyeksikan kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar Rp1.700 triliun pada 2026, naik dari estimasi Rp1.500 triliun pada 2025.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyambut inisiatif CSCF 2026 karena dinilai membantu pemerintah menyosialisasikan pembaruan regulasi ekspor-impor kepada pelaku usaha. DJBC juga menegaskan bahwa CKB Logistics telah memperoleh sertifikat Authorized Economic Operator (AEO), sebagai pengakuan kepatuhan tinggi terhadap ketentuan kepabeanan.

Perwakilan DJBC mengatakan, “Ketika sebuah perusahaan sudah mendapatkan sertifikasi AEO, hal itu berarti DJBC menyatakan perusahaan tersebut patuh terhadap seluruh persyaratan yang berlaku sehingga dapat dipercaya menjalankan kegiatan di bidang logistik.”

Iman menyatakan harapannya agar CSCF berkembang menjadi ekosistem kolaborasi yang mempertemukan profesional, regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk memperkuat daya saing sektor logistik nasional. “Perpaduan keahlian akademis SCI, kebijakan Bea Cukai, serta kapabilitas operasional CKB Logistics menjadikan forum ini lebih dari sekadar diskusi. Kami ingin menjadikannya katalis bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah dinamika global,” pungkasnya.