Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak signifikan pada penutupan Selasa, 16 Juni 2026, mengakhiri dua hari pelemahan berturut-turut. Lonjakan dipicu sentimen positif terkait rencana penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026.
Kenaikan juga didorong oleh penguatan harga minyak kedelai pada perdagangan sebelumnya serta faktor teknikal di pasar berjangka.
Penguatan Kontrak Berjangka
Data BMD mencatat lonjakan pada hampir semua tenor kontrak CPO. Kontrak Juli 2026 naik 89 Ringgit Malaysia menjadi 4.501 Ringgit per ton, sedangkan Agustus 2026 meningkat 88 Ringgit menjadi 4.539 Ringgit per ton.
Tenor September 2026 juga bertambah 88 Ringgit ke posisi 4.539 Ringgit per ton. Kontrak Oktober naik 92 Ringgit menjadi 4.607 Ringgit per ton, November melesat 89 Ringgit ke 4.636 Ringgit per ton, dan Desember naik 86 Ringgit menjadi 4.660 Ringgit per ton.
Faktor Pengaruh
Pelaku pasar menyambut rencana mandatori B50 karena kebijakan itu diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik minyak sawit Indonesia dan mengurangi pasokan untuk pasar ekspor. Trader proprietary dari perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyatakan, “Potensi penerapan program biodiesel B50 di Indonesia memberikan dukungan terhadap sentimen pasar. Selain itu, penguatan harga minyak kedelai pada perdagangan sebelumnya turut membantu kenaikan harga CPO.”
Selain B50, Indonesia juga dijadwalkan mulai mengimplementasikan bahan bakar bensin campuran etanol secara bertahap awal Juli.
Pergerakan Komoditas Lain dan Faktor Pembatas
Di pasar komoditas lain, kontrak minyak sawit di Bursa Dalian, China, naik 0,56%, sementara kontrak minyak kedelai turun tipis 0,06%. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai terkoreksi 0,86%.
Sebagai komoditas yang bersaing dengan minyak nabati lain, pergerakan CPO cenderung mengikuti dinamika minyak kedelai. Namun, pelemahan harga minyak mentah dunia menjadi faktor yang membatasi laju kenaikan CPO, karena harga minyak yang lebih rendah bisa mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Pengaruh Nilai Tukar dan Ekspor
Pelemahan Ringgit Malaysia terhadap dolar AS sebesar 0,35% turut mendukung pasar CPO karena membuat produk Malaysia relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sentimen pasar juga didukung oleh data perusahaan survei kargo yang menunjukkan kenaikan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Juni antara 9,6% hingga 23,8% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Di sisi kebijakan, Malaysia menurunkan harga referensi CPO untuk Juli namun mempertahankan tarif bea keluar ekspor sebesar 10%.
Prospek Teknikal
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, menilai harga CPO berpotensi melanjutkan penguatan jika mampu menembus area resistensi di kisaran 4.527–4.547 Ringgit per ton. “Jika level tersebut berhasil dilewati, harga CPO berpeluang melanjutkan kenaikan menuju 4.579 Ringgit Malaysia per ton,” ujarnya.
Ikuti Ihram.co.id
