Disfungsi otot dasar panggul pada perempuan bukan sekadar masalah medis ringan. Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas, kualitas hidup, serta kepuasan seksual jika tidak ditangani secara tepat.

Ahli kandungan menyatakan gangguan tersebut mencakup berbagai masalah—mulai dari inkontinensia urin hingga nyeri panggul kronis—yang sering tidak mendapat perhatian memadai dalam layanan kesehatan.

Cakupan Gangguan Pelvic Floor

Menurut dr Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG., FAUCICOG., MM., MARS, gangguan otot dasar panggul atau Pelvic Floor Dysfunction (PFD) terdiri dari empat kondisi utama yang kerap tumpang tindih dan memerlukan penanganan komprehensif.

Keempat kondisi tersebut adalah: inkontinensia urin (IK), prolaps organ panggul (POP), inkontinensia feses (IF), dan nyeri panggul kronis. Dr Yeni menyebut inkontinensia urin sebagai bentuk PFD yang paling sering ditemui.

“Salah satu gangguan PFD adalah tidak bisa menahan kencing. Gangguan ini harus diatasi karena dampaknya dapat menurunkan kualitas hidup dan produktivitas, mengganggu hubungan intim dan kepuasan seksual perempuan,” ujar dr Yeni.

Penyebab dan Faktor Risiko

Dr Yeni memaparkan beberapa faktor yang berperan menyebabkan PFD, antara lain kehamilan, persalinan pervaginam, obesitas, peningkatan tekanan abdomen, penurunan kadar estrogen, serta riwayat operasi di daerah pelvis.

Pilihan Penanganan

Penanganan PFD, menurut dr Yeni, sebaiknya melibatkan terapi intimate wellness yang dirancang untuk memperkuat, merilekskan, dan mengoordinasikan otot dasar panggul. Otot ini memiliki fungsi menopang organ vital, mengontrol kontinensia, serta mendukung stabilitas dan fungsi seksual.

Dr Yeni menjelaskan bahwa perkembangan teknologi di bidang aesthetic dan wellness membuka alternatif non-bedah. Salah satu metode yang disebut adalah teknologi Femilift, yang memanfaatkan energi termal untuk merangsang regenerasi jaringan dan meningkatkan produksi kolagen.

“Terapi ini sangat efektif untuk mengatasi sindrom laksitas vagina, vagina kering akibat penurunan hormon, dan inkontinensia urine ringan,” kata dr Yeni.

Menurutnya, teknologi semacam ini bertujuan membuat jaringan lebih kencang dan kelembaban area intim kembali optimal, dengan waktu pemulihan lebih singkat dibanding prosedur invasif.

Namun, dr Yeni menekankan bahwa keberhasilan perawatan tidak hanya bergantung pada teknologi. Evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis diperlukan untuk menyesuaikan terapi berdasarkan kondisi kesehatan, riwayat, kebutuhan, dan ekspektasi pasien.

“Pendekatan ini memastikan bahwa setiap perawatan dilakukan secara aman, terukur, dan berdasarkan evidence-based medicine, bukan hanya mengejar hasil estetika,” tegas dr Yeni.

Pendekatan Terintegrasi Dalam Layanan

Chief Executive Officer Bamed, dr Yassin Yanuar Mohammad, Sp.OG, Subsp.FER, M.Sc., menyatakan perubahan pandangan masyarakat terhadap kesehatan mendorong kebutuhan layanan yang lebih terintegrasi antara aspek estetika dan kesejahteraan.

“Kesehatan kulit, bentuk tubuh, dan kesehatan area intim memiliki peran penting dalam mendukung kenyamanan, kepercayaan diri, dan wellbeing seseorang. Karena itu, tubuh perlu dikelola dengan pendekatan yang menyeluruh, terukur, dan ditangani oleh ahlinya,” ujar dr Yassin.