Indeks saham utama Wall Street mengawali pekan dengan reli tajam yang mendorong Dow Jones Industrial Average menutup perdagangan di atas level 52.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026), Dow Jones naik 306,63 poin (0,59%) ke rekor tertinggi 52.182,74. Indeks S&P 500 melonjak 1,18% ke 7.440,43, sementara Nasdaq Composite menguat 2,07% ke 25.820,14.

Saham Alphabet menjadi salah satu penopang utama kenaikan setelah melesat hampir 5% pada hari pertamanya sebagai anggota baru Dow Jones. Penguatan saham perusahaan induk Google tersebut memperkuat sentimen positif terhadap saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

Kenaikan juga tercatat pada saham Comcast yang melesat 4,4% menyusul pengumuman rencana pemisahan bisnis media dan teknologi menjadi dua perusahaan publik. Perusahaan menargetkan proses pemisahan selesai dalam sekitar satu tahun.

Sektor semikonduktor turut menunjukkan reli. VanEck Semiconductor ETF (SMH) melonjak lebih dari 3% setelah sempat bergerak di zona merah pada sesi awal, dengan sejumlah saham chip mencatat kenaikan signifikan.

  • Astera Labs naik sekitar 16%.
  • KLA menguat sekitar 12%.
  • Applied Materials bertambah hampir 11%.

Ketegangan Belum Mereda

Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor menyambut kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan aksi militer dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan itu tercapai setelah insiden saling serang yang terjadi pada akhir pekan dan sempat menimbulkan kekhawatiran terkait pasokan energi global. Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda: ada perintah serangan sebelumnya terhadap fasilitas militer Iran dan peringatan agar gencatan senjata tidak dilanggar.

Di pasar energi, harga minyak tetap menguat. Brent naik 1,61% menjadi US$73,15 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bertambah 2,2% ke US$70,75 per barel.

Joe Tigay, Portfolio Manager Equity Armor Investments, memperkirakan pekan ini perdagangan akan lebih fluktuatif karena volume transaksi cenderung menipis menjelang libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat (3/7/2026).

“Likuiditas pasar kemungkinan lebih tipis karena pekan perdagangan yang lebih pendek. Di sisi lain, banyak manajer investasi juga melakukan penyesuaian portofolio menjelang akhir kuartal sehingga pergerakan harga saham bisa lebih besar dari biasanya,”

Pelaku pasar kini menantikan kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran serta sejumlah data ekonomi penting AS pada pekan ini yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan Wall Street dalam jangka pendek.